GEMA PEMBEBASAN: Bersatu, bergerak, tegakkan ideologi islam!
Selamat Datang dan salam pembebasan dari kami! Follow us:

Pendidikan Indonesia Dalam Cengkeraman Sekularisme

Sabtu, 13 Oktober 2012 - 15:14:37 WIB
Share:
Oleh: GEMA Pembebasan Daerah Bandung Jabar | Dibaca: 22628x

Siapapun orangnya baik Itu pedagang, guru, mahasiswa, dosen, insinyur atau siapapun itu yang tinggal di Indonesia ini pasti satu suara bahwa memang negeri ini dalam keadaan dijajah. Hal ini pun tidak mungkin terbantahkan kecuali jika orang itu tidak tahu, bodoh, atau orang itu adalah antek-anteknya penjajah. Memang miris jika kita coba memperhatikan negeri ini lebih dalam, segala aspeknya terbelakang, bagaimana tidak, toh memang sedang terjajah.

Memang kita tidak menyaksikan ada penindasan penjajah sebagaimana yang kita pernah pelajari pada pelajaran sejarah penjajahan belanda di Indonesia dulu, dan kondisi keterjajahan di era baru ini memang bukan penjajahan yang bersifat fisik sebagaimana dahulu zaman kompeni, tetapi di era baru ini negeri kita terjajah dalam bidang ekonomi, politik, sosial,budaya, pendidikan, dll.

Satu subsistem di negara ini yakni pendidikan, kehendak penjajah untuk mengokohkan penjajahan di Negara ini adalah dengan mensekulerisasi bidang pendidikannya dangan cara menyuntikan kepentingan-kapentingannya melalui 'antek-anteknya' yakni para penguasa dan konco-konconya dalam membuat undang-undang dan kurikulum.

Diakui atau tidak sistem pendidikan di Indonesia adalah sistem pendidikan sekuler-meterialistis. Hal ini dapat terlihat antara lain pada UU Sisdiknas No. 20 tahun 2003 Bab VI tentang jalur, jenjang dan jenis pendidikan bagian kesatu (umum) pasal 15 yang berbunyi: jenis pendidikan yang mencakup pendidikan umum, kejuruan, akademik, profesi, vokasi, keagamaan, dan khusus. Dari pasal ini tampak jelas adanya dikotomi pendidikan, yaitu pendidikan Agama dan pendidikan umum. Secara kelembagaan pun, perguruan tinggi dipisahkan antara perguruan tinggi Agama seperti UIN dan perguruan tinggi umum seperti ITB, UI dan lain-lain.

Hal ini juga Nampak dalam Bab X pasal 37 tentang kurikulum pendidikan tinggi yang wajib memuat pendidikan Agama, pendidikan kewarganegaraan dan bahasa. Namun, pendidikan agama yang disediakan tidak proporsional dan tidak dijadikan landasan bagi bidang pelajaran lainnya. Rata-rata pendidikan Agama di PT diberikan sebanyak 2 jam pelajaran dangan muatan 3 SKS hanya dalam satu semester dari total perkuliahan selama kurang lebih 4 tahun. Lebih parah lagi, dibeberapa PT, matakuliah Agama dijadikan sebagai matakuliah pilihan, atau bahkan ditiadakan.

 

Mengokohkan Sekularisme

Memang, salah satu fungsi pendidikan adalah untuk mengokohkan sistem Negara yang ada. Kalau Negaranya sekular, sistem pendidikanya pastilah dirancang untuk mengokohkan sekularisme itu. Ironisnya, Indonesia, meski mayoritas penduduknya beragama Islam, memilih

sistem Negara yang sekular. Jadilah kurikulum dibuat untuk mengokohkan sekularisme.

Tidak aneh, kalau sejak dini, kepada anak didik kita ditanamkan nilainilai sekularisme, baik langsung maupun tidak langsung. Dalam pelajaran tertentu, diajarkan bahwa Indonesia adalah plural, terdiri dari berbagai suku, bangsa, adat-istiadat, dan tradisi. Karena itu, tidak boleh dipaksakan satu ajaran agama dalam Negara. Agama tidak boleh mengatur aspek publik seperti politik, ekonomi, atau pendidikan. Jelas hal ini merupakan penanaman nilai-nilai sekularisme, karena agama tidak boleh campur tangan dalam sektor publik. Anak didik pun lebih banyak diajari tentang demokrasi, HAM, Pluralisme, yang merupakan ajaran pokok kapitalisme. Dalam pelajaran tatanegara, anak didik kemudian lebih mengenal Jean Bodin, Thomas Hobbes, atau JJ Roseau daripada pemikir-pemikir politik Islam. Sebab, yang diajarkan adalah tatanegara Sekular, bukan tatanegara Islam. Sekularisme juga tampak dalam pelajaran sosiologi. Dijelaskan

bahwa yang dimaksud dengan sanksi agama adalah sanksi yang diberikan di akhirat; di dunia sanksi agama tidak ada. Hal yang jelas bertolak belakang dengan Islam yang mengajarkan Negara harus memberikan sanksi terhadap para pelaku kriminal, bukan di akhirat saja, tetapi di dunia juga. Dan hal-hal yang seperti ini yang terus di ajarkan kepada anak-anak kita, generasi penerus kaum muslim, jelaslah kian hari umat ini kian jauh dengan Islam.

Jauh dengan Islam tentunya akan semakin dekat dengan kehancuran. Dan kehancuran itu sudah semakin tampak nyata dalam kehiduna kaum muslim saat ini. Belum lagi masyarakat dicekik sedemikian rupa dengan liberalisasi pendidikan, pendidikan menjadi ladang bisnis. Jika ingin mendapat pendidikan yang murah, harus rela mendapatkan pendidikan yang paspasan, dan ala kadarnya. Jika ingin mendapatkan pendidikan yang baik, fasilitas lengkap, pengajar yang kompeten, harus rela pula membayarnya dengan sangat mahal. Singkatnya, orang miskin dilarang sekolah!. Dan inilah wujud nyata penjajahan, dan pengokohan penjajahan itu sendiri.

 

Wahai Mahasiswa Muslim

Telah nyata Ideologi kapitalisme hingga hari ini sedang merongrong umat ini menuju jurang kebinasaan, dan kebinasaan itu kian nampak di depan mata kita. Tentu saja jika kita membicarakan bidang pendidikan, bidang pendidikan adalah salah satu subsistemnya. dan bidang pendidikan yang sekular ini tidak lepas dari sistem/ideologi kapitalisme yang dianut oleh indonesia. Dan kita tidak akan pernah bisa lepas dari jeratan pendidikan sekularisme ini jika kita tidak mengubah sistem/ideologi yang dianut oleh Indonesia ini.

Ideologi Islam adalah paripurna, dan tidak ada alasan sedikitpun untuk tidak menganut dan menerapkan ideologi islam. kajian empiris telah menjawab bagaimana sistem Islam mengatur segala macam problematika kehidupan manusia sedemikian luar biasa rincinya, fakta historis pun menjelaskan bagaimana ideologi Islam begitu agung mengatur umat Islam dahulu dengan segudang prestasinya mulai dari bidang keilmuan, moral, teknologi, peradaban, sehingga para cendekiawan-cendekiawan barat pun mengatakan “the golden age” pada peradaban Islam pada saat itu.

Keyakinan kita akan Islam pun mewajibkan kita untuk hidup hanya dalam naungan Islam saja. Karena hakikannya, agama apapun, sistem apapun, ideologi apapun selain ISLAM, semuanya adalah bathil. Kebenaran hanya ada pada Islam. [] Rezaldi Harisman



Komentar: 0

P E R H A T I A N : Komentar yang mengandung spam atau promosi produk akan dihapus!
Isi Komentar :

Nama :
Website : Tanpa http://
Email :
Komentar
(Masukkan 6 kode diatas)

 

Login User
Username :
Password :

Komentar Terakhir
Fb Fans Page


Kontak YM
  • iman_1924

  • Fahmi

  • Falsa M

  • Dimas G Randa

Chat Box


Nama :
Pesan


Jajak Pendapat
Apa yang seharusnya dilakukan oleh Pemuda dalam Perubahan Menuju Indonesia yang lebih baik?

Menjadi Pemuda yang memperjuangkan aspirasi Gema Pembebasan.
Memperjuangkan penerapan Syariah Islam secara Kaffah dengan tegaknya Khilafah.
Membenahi sistem pemerintahan yang sudah ada, kemudian melanjutkannya kembali.
Abstain.

Lihat Hasil Poling



Statistik Kunjungan
02075086


Pengunjung hari ini : 57

Total pengunjung : 404112

Hits hari ini : 101

Total Hits : 2075086

Pengunjung Online: 2