GEMA PEMBEBASAN: Bersatu, bergerak, tegakkan ideologi islam!
Selamat Datang dan salam pembebasan dari kami! Follow us:

Kepemimpinan Modal

Sabtu, 13 Oktober 2012 - 15:16:24 WIB
Share:
Oleh: GEMA Pembebasan Daerah Bandung Jabar | Dibaca: 1989x

Proses Demokratisasi kepemimpinan di Indonesia telah melalui tahapan panjang. Di mulai pasca Kemerdekaan dengan multi partai, masa orde baru dengan tiga elemen partai yang mewakili masing-masing kepentingan di mana Golkar menjadi anak emas, dan pasca reformasi dengan tahapan multi partai yang berlanjut kepada pemilihan langsung. Demokrasi telah memberikan pembelajaran politik “yang menggembirakan” bagi para pebisnis dan juga “yang membuat gila” para aktor pelaku dan mereka yang menjadi pusing karena prosesnya.

Bakat dan kemampuan yang dimiliki oleh para wakil dan pemimpin bukan menjadi patokan utama. Karena justru yang adalah seberapa besar modal dan keuntungan yang dapat didapat oleh mereka untuk partai dan kepentingan lainnya. Kita tahu secara fakta, di Negeri ini orang yang terpilih bukan dilandasi dengan ide keren, ideologis dan memberikan solusi konkrit tetapi justru karena mereka memiliki dana untuk menawar kepada lembaga dan partai serta proyek bekenisasi yang digagas untuk menggulirkan kepentingan menuju yang diharapkan.

Justru pada faktanya, proses pemilihan ini menghasilkan sampah. Sampah yak arena justru membutuhkan kertas, kain, plastic dan berbagai atribut kampanye. Mereka yang maju harus

“bekenisasi” dan perlu melakukan manuver-manuver penting guna meraih capaian kesuksesan pribadi dan partai. Sampah-sampah itu bergulir bukan dalam sekali dan sehari justru terus digulirkan untuk menuai harapan orang mengingat wajah dalam pemilihan nantinya. Para pemilih tidak melihat visi dan misi, Program-program kerja, justru yang ada penawaran-penawaran model-model baligho, reklame, pamflet, leaflet, iklan dan lain-lain.

Produk-produk yang keluar pada akhirnya bukan menyadarkan justru kreativitas antar calon dan partai dalam membuat baligho paling banyak, paling kreatif dan paling mudah ditemui. Alhasil, kita bisa melihat ada calon yang memiripkan wajahnya dengan obama, ada pula calon yang menggandalkan sisi keartisannya atau anaknya yang artis, juga terlihat ada calon yang melakukan gerakan salto, terlihat pula kata-kata aneh nan lucu yang begitu banyak dan panjang yang terpajang di ruas-ruas tol, ada pun yang gambar dan modelnya di buat kreatif, hingga bergandeng dengan artis terkenal.

Sedangkan saat kita telisik visi, misi, program kerja dan kemampuan mereka justru kita temukan tidak ada. Di sisi lain, ada iklan televisi yang saling mengklaim soal swasembada pertanian, juga partai yang menampilkan artis-artis, nyanyian, gambar-gambar serta video menarik, juga hasil survey di masyarakat.

Jadi apa yang kita harapkan dari mereka? Inilah sistem Demokrasi yang berharap menghasilkan sosok pemimpin instan tanpa melihat baik dan buruknya, seorang pemikir dan pemalas, yang gila uang atau memang ikhlas dalam berjuang. Demokrasi telah menampilkan sosok-sosok bisu dihadapan rakyat, enggan mewacanakan suara nurani rakyat. Maka alasan apa yang membuat kita bertahan pada sistem kepemimpinan di dalam Demokrasi.

 

Hiburan Politik

Kenyataan di atas memperhatikan bahwa para pemilih dihadapkan pada sebuah fenomena bernama hiburan. Kita bisa melihat bagaimana Sinetron dalam bentuk berita dan fenomena pemilu begitu terasa. Masyarakat begitu disenangkan dengan hadirnya artis-artis dalam panggung yang benar-benar sama sekali tidak menunjukan kesadaran politik para pemilih. Yang ada permainan jari yang diangkat dengan berputar-putar sambil mengikuti irami dangdut atau pop yang dilantunkan para musisi.

Sedangkan ketika sang calon wakil rakyat dan pemimpin naik dan berkesempatan bicara mereka tak mampu memberikan ketertarikan konstituen terhadapnya. Karena acara utamanya bukan pemibcaraan politik tetapi para artis yang nongol dan menunjukan kemampuannya.

Ini ditambah retorika-retorika kosong. Berputar-putar pada hal umum, janji-janji dan bualan kosong yang terus dikumandangkan. Entah itu partai yang berbasis massa nasionalisme, agama maupun kelompok massa tertentu. Para calon tidak lebih hanya menjadi bumbu bukan hal utama. Sementara saat debat terbuka, yangterlihat justru atraksi dan yel-yel menarik para pendukung

dibandingkan jawaban-jawaban semu mereka.

Demokrasi benar-benar mendidik. Mendidik para politikus ulung untuk belajar meraih massa tanpa memberikan visi, misi dan program mereka yang tidak pernah jelas. Mendidik untuk belajar lagi bagaimana mensukseskan kemenangan tanpa harus berkorban pemikiran, dan juga menyambangi suara-suara konstituen.

Selebihnya, hiburan-hiburan lainnya membuat kotor dunia dan lingkungan. tertempel lengket dan kuat dalam dinding walaupun masa tenang berada dan pemilihan telah berlalu. Kita pun bisa

melihat, bagaimana mereka yang telah lolos dalam proses pemilu yang duduk menjadi anggota dewan dan pemimpin ternyata masih juga memberikan dagelan sinetron. Ada yang telah bernyanyi, tertidur pulas di kursi empuk, ada yang berlaga marah, ada pula yang berlaga seakan-akan menjadi pahlawan. Yang seringkali terlihat adalah adegan penangkapan kepolisian akibat tindak korupsi mereka yang sedang dan tealh menjabat.

 

Mengajari Partai Politik

Suatu ketika saya melintasi halaman kecamatan di kabupaten tertentu, saya melihat baligho besar terpampang di sana. Musyawarah cabang partai tertentu tertulis di sana. Kegiatan yang sama dilakukan beberapa partai juga. Entahlah, apakah ini yang disebut partai politik di mana kehidupan dunia sosial lebih suka mereka jamah daripada kesadaran masyarakat tentang politik itu sendiri. Ladang urusan sosial yang harusnya lebih banyak dilakukan oleh lembaga zakat dan social ternyata juga disaingi pula oleh partai politik.

Selain itu hal yang membuat miris, masyarakat akhirnya tidak pernah paham tujuan dan fungsi partai politik itu sendiri. Masyarakat hanya akan melihat seberapa besar bantuan beras, kesehatan, lomba mewarnai yang dilakukan oleh partai tersebut bukan dilihat dari apakah partai politik ini memberikan jaminan membela rakyat atau tidak. Dalam masalah lainnya kita dapat menilik bahwa partai politik harus menyiapkan dana begitu besar bukan sekedar untuk promosi dan publikasi, tetapi saja harus juga dapat membayar dana sosial secara nyata kepada masyarakat. Inilah kualitas dan kuantitas partai politik yang ada. Citra dan gaya ini adalah penularan dari bentuk partai politik di Dunia Barat yang telah ditinggalkan mereka, dan baru

berkembang di negeri zamrud khatulistiwa ini.

Selain itu, dalam masalah pengkaderan dan perwakilan, tampaknya partai politik telah gagal menunjukan kader-kader mereka, yang ada mereka hanya stagnan dan mengambil calon-calon instan. Akhirnya, partai, Idealisme dan Ideologi partai terpaksa digadai terlebih dahulu untuk meraup suara sebanyak-banyaknya. Sementara para kader yang berada di tataran bawah terpaksa harus “nerimo” atas gagasan yang membingungkan dari para pemimpin partai.

Sepertinya partai politik itu harus belajar banyak kepada OSIS (Orientasi Siswa Intra Sekolah) kalau ternyata tidak mampu membedakan organisasi dan partai. Alangkah lucu memang Demokrasi, memelihara begitu banyak partai politik, namun pada faktanya pengelolaannya begitu semu dan kosong.

 

Ongkos Politik Mahal

Kira-kira berapa biaya jika anda harus mengundang Band besar untuk menyanyikan beberapa lagu? Sudah ditebak angkanya bisa puluhan juta. Itu baru mengundang satu band saja. Belum mengundang band, artis dan lain-lain untuk tampil di pentas panggung kampanye terbuka. Juga perlu kita pikirkan di seluruh Indonesia, berapa dana yang dikeluarkan oleh mereka yang bergelut pada panggung Demokrasi? Angkanya bisa mencapai jutaan bahkan Puluhan Milyar. Ini merupakan hal yang aneh, ketika masyarakat dihujani dengan kemiskinan dan mahalnya harga-harga justru para calon anggota dewan terus memberikan kesenjangan saat periode pemilu.

Pada akhirnya, mereka yang habis-habisan dengan modal tersebut mau tidak mau harus berniat mengembalikan modal. Bila perlu untung. Inilah bencana politik. Kenapa bencana? Karena pada akhirnya kehidupanmasyarakat harus dipertaruhkan kepada modal, sementara perpolitikan yang diharapkan ummat harus diabaikan untuk mengembalikan modal dan keuntungan.

 

Jebakan-Jebakan Demokrasi

Politik Demokrasi di dunia barat digambarkan dengan upaya sntitesis dari keberadaan dictator. Ini ditandai dengan revolusi politik di Perancis, yang mana kekuasaan para raja harus berakhir dengan lahirnya pemahaman politik Demokrasi di tengah-tengah masyarakat. Pada akhirnya kita

menyadari bahwa Demokrasi telah menjebak secara nyata dan membuat polemik di tengah-tengah masyarakat. Setidaknya ada 2 hal, yang membuat Demokrasi menjebak kita semua.

1. Bagaimana meraih suara terbanyak yang mana suara mereka yang berpendidikan tinggi dan sadar politik harus bersaing dengan mereka yang berpendidikan rendah dan tidak sadar tentang politik. Kita bisa melihat secara jelas, tatkala PAN dan Amien Rais menjadi symbol perubahan politik orde baru ke reformasi tak mampu menduduki kejayaan. Tahu kenapa? Karena pada dasarnya Mesin Keuangan lebih akan mudah menjalar dan mempengaruhi daripada sekedara retorika politik.

2. Pihak yang mendapat suara terbanyak belum tentu otomatis didukung dalam segala sikap politiknya. Ini terjadi di FIS di Maroko tahun 1991 dan Partai Refah di Turki era 1996. Pemilu tahun 1999 yang memenangkan PDIP, namun pada faktanya Gusdur yang dilantik. Dan Tahun 2004 dimana kursi presiden dijabat oleh Soesilo Bambang Yudhoyono namun pada faktanya Jusuf Kalla yang banyak berbuat.

Jalan untuk menegakkan syariah islam bukanlah jalan yang mudah. Bahkan terasa sulit dan sukar. Namun, begitulah manusia senantiasa mau mencari jalan mudah danringan meskipun harus berhadapan dan berdampingan dalam kekotoran yang seringkali memberikan pengaruh besar bagi kelompok tersebut untuk lupa pada tujuan mereka.

“Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan, namun ia tidak menempuh jalan yang mendaki lagi sukar” (QS. Al-Balad(90):10-11) .

Suara mayoritas, dengan memberlakukan one man one vote telah memaksa individu dan partai politik untuk menjadikan logika jumlah dalam pelaksanaannya dibandingkan dengan mempertahankan idealisme dan ideologi partai itu sendiri. Inilah sosok dan wujud Demokrasi, di mana menjual kalimat “Kami bersih dan peduli”, “Bersama wong cilik” “Beras murah”, dan segelintir janji-janji kosong lainnya lebih mudah dibandingkan dengan menjadikan visi, misi, idealisme dan ideologi partai yang disampaikan pada masyarakat.

Inilah yang menyebabkan timbulnya revolusi dalam melakukan perubahan di suatu negeri, karena pada dasarnya mesin perpolitikan Demokrasi hanya berjalan ditempat, dan suara-suara rakyat yang terwakili hanya diam. Mereka baru akan keluar, tatkala mereka menginginkan citra

dan naiknya sosok mereka serta partai sebagai pembela rakyat demi kepemimpinan politik yang kotor.

Politik Demokrasi sudah usang dan layak ditempatkan pada tempat sampah. Sudah saatnya pergantian bukan sekedar rezim belaka, namun juga sistemnya pun harus segera digantikan. Karena jelas tidak ada cara lain kecuali menyelamatkan negeri ini dengan sistem islam, bukan dengan Demokrasi. [] R.A.



Komentar: 0

P E R H A T I A N : Komentar yang mengandung spam atau promosi produk akan dihapus!
Isi Komentar :

Nama :
Website : Tanpa http://
Email :
Komentar
(Masukkan 6 kode diatas)

 

Login User
Username :
Password :

Komentar Terakhir
Fb Fans Page


Kontak YM
  • iman_1924

  • Fahmi

  • Falsa M

  • Dimas G Randa

Chat Box


Nama :
Pesan


Jajak Pendapat
Apa yang seharusnya dilakukan oleh Pemuda dalam Perubahan Menuju Indonesia yang lebih baik?

Menjadi Pemuda yang memperjuangkan aspirasi Gema Pembebasan.
Memperjuangkan penerapan Syariah Islam secara Kaffah dengan tegaknya Khilafah.
Membenahi sistem pemerintahan yang sudah ada, kemudian melanjutkannya kembali.
Abstain.

Lihat Hasil Poling



Statistik Kunjungan
02277997


Pengunjung hari ini : 176

Total pengunjung : 449040

Hits hari ini : 988

Total Hits : 2277997

Pengunjung Online: 6