GEMA PEMBEBASAN: Bersatu, bergerak, tegakkan ideologi islam!
Selamat Datang dan salam pembebasan dari kami! Follow us:

IIC#3 GEMA Pembebasan Sulselbar : Peran Pergerakan Mahasiswa Muslim Menuju Indonesia yang Lebih Baik

Minggu, 20 Januari 2013 - 20:55:17 WIB
Share:
Oleh: GEMA Pembebasan Wilayah Sulselbar | Dibaca: 2260x
 Makassar (19/01/2013), Gema Pembebasan --- Kegiatan menyebarkan dakwah untuk melanjutkan kehidupan Islam harus senantiasa ada meski riak-riaknya belum terasa. Kenyataan hari ini adalah impian, target hari kemarin dan kenyataan masa depan untuk tegaknya institusi Khilafah Islamiyah yang dijanjikan oleh Dzat Yang Maha Perkasa adalah perjuangan dan kerja keras, kerja cerdas, serta kerja ikhlas hari ini. Menyadari hal demikian, Gerakan Mahasiswa (GEMA) Pembebasan Wilayah Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat (SulselBar) kembali mengadakan agenda rutin Islamic Intellectual Challenge (IIC) yang sarat dengan nilai intelektualitas, mencerdaskan masyarakat kampus, mengedukasi dan mengopinikan ide-ide Islam serta membantah ide-ide kufur dikalangan mahasiswa yang bertempat di Aula Harifin Tumpa, SH, MH., Fakultas Hukum, Universitas Hasanuddin. Acara berlangsung dimulai dari jam 09.30 WITA pagi sampai jam 12.30 WITA siang yang dihadiri tidak kurang dari 50 orang peserta.
Islamic Intellectual Challenge (IIC) kali ini mengangkat tema “Peran Pergerakan Mahasiswa Muslim Menuju Indonesia yang Lebih Baik” dengan pembicara dari GEMA Pembebasan dan dari berbagai organ mahasiswa baik OMEK (Organisasi Mahasiswa Ekstra Kampus) dan OMIK (Organisasi Mahasiswa Intra Kampus) sebagai pembicara pembanding. Tampil sebagai pembicara dari Gema Pembebasan adalah Budi Hartono (Humas Gema Pembebasan Kota Makassar), Andi Rifyal Qa’bah (Sekjen Gema Pembebasan Kota Makassar), Muhammad Hilal (Ketua Gema Pembebasan Kota Makassar), Muhammad Rahmani (Sekjen Gema Pembebasan Wilayah SulselBar), dan Arief Shidiq Pahany (Ketua Gema Pembebasan Wilayah SulselBar). Sejatinya, pembicara pembanding yang di undang yaitu IMM Kota Makassar, GMNI Sulsel, HMI Cabang Makassar Timur, BEM Pertanian UMI, BEM Teknik UNM, dan Senat Mahasiswa Fakultas Teknik (SMFT) Unhas, namun yang hadir dalam IIC kali ini hanya Nurhidayat (Perwakilan BEM Teknik UNM) dan Irwan dari GMNI Wilayah Sulawesi Selatan (SulSel). Acara IIC dipandu oleh moderator, Harly Yudha Priyono.
Pembicara pertama dari Gema Pembebasan yaitu Budi Hartono yang memaparkan materi tentang permasalahan pendidikan di Indonesia. Dari masalah pendidikan diungkapkan bahwa sistem pendidikan Indonesia hanya menitik beratkan pada pengembangan sains namun kering dengan nilai-nilai spiritual dan moralitas. Pendidikan banyak mengungkung daya kreatifitas dan nalar dan peserta didik cenderung diarahkan untuk meraih materi yang sebanyak-banyaknya sebagai puncak kebahagiaan hidup. Kemudian materi kedua dilanjutkan oleh Andi Rifyal Qa’bah mengangkat permasalahan hukum. Dalam bidang hukum, diungkapkan gambaran sistem hukum Indonesia yang analogikan bagai pisau yang tajam ke bawah untuk masyarakat biasa namun tumpul untuk kalangan elit. Tidak hanya itu, dalam bidang politik ekonomi yang dipaparkan oleh Muhammad Hilal juga tidak kalah pelitnya. Indonesia yang menganut sistem ekonomi kapitalisme yang menitik beratkan pada kepemilikan modal banyak menjual aset dan kekayaan alam bangsa Indonesia kepada pihak asing guna memenuhi kepentingan perut para penguasa yang korup. Melanjutkan pembahasan ketiga pembicara yang saling terkait, Muhammad Rahmani yang membawakan materi tentang revolusi sosial  menegaskan bahwa “Melihat segala permasalahan yang dihadapi Indonesia, adalah sebuah kesalahan jika mahasiswa hari ini tidak sadar bahwa Indonesia tidak sedang baik-baik saja”.  Mengakhiri pemaparan dari Gema Pembebasan, Arief Shidiq Pahany yang mengangkat materi mengenai pergerakan mahasiswa mengatakan bahwa sejarah pergerakan mahasiswa Indonesia sejak masa pra kemerdekaan hingga masa reformasi semuanya gagal. “Gerakan mahasiswa selama ini gagal. Sejak masa pra kemerdekaan hingga pada tahun 1998, mahasiswa hanya bersatu karena adanya common enemy (musuh bersama) tetapi mereka tidak disatukan karena adanya tujuan, cita-cita maupun ideologi yang sama. Mahasiswa selama ini hanya sadar masalah tetapi tidak sadar solusi”, imbuhnya.
Selepas semua pembicara dari Gema Pembebasan selesai memaparkan materinya, kemudian dilanjutkan dengan pemaparan materi dari pembicara pembanding. Irwan yang berasal dari GMNI SulSel mengawali pembicaraan dengan membantah beberapa argument dari pembicara Gema Pembebasan. Mengatahui bahwa ideologi yang diusung oleh Gema Pembebasan adalah ideologi Islam, Irwan merasa sangsi akan kemampuan ideologi Islam menyatukan bangsa Indonesia yang terdiri dari berbagai elemen suku, adat istiadat, agama, dan kebudayaan yang heterogen. Irwan mengatakan bahwa “Jika ideologi Islam yang digunakan dalam mengatur bangsa Indonesia, maka Indonesia akan bubar”. Menurutnya Pancasila sudah final, Pancasila adalah ideologi yang digali dari keberagaman Indonesia yang multikompleks. Berbeda dengan Irwan, pembicara pembanding kedua yaitu Nurhidayat yang menyatakan persetujuannya diterapkannya ideologi Islam dalam mengatur sendi-sendi kehidupan, namun tidak setuju kalau Islam diterapkan secara struktural. “Saya setuju dengan ideologi Islam. Namun dalam tataran pelaksanaannya, yang dibutuhkan adalah bagaimana menjadikan Islam itu hanya sebatas kultural saja” tukas Nurhidayat memberikan tanggapan.
Kemudian, moderator mempersilahkan para peserta yang hadir untuk bertanya. Pertanyaan yangh dilontarkan hadirin diantaranya, kembali mempertanyakan tentang Pancasila dengan Ideologi Islam apakah mampu bersanding atau tidak. Kemudian pembicara dari Gema Pembebasan menjawab dengan jawaban yang lugas bahwa apa yang terkandung dalam Pancasila hanya berisi nilai-nilai universal. Pancasila tidak merinci bagaimana teknis pelaksanaan konsep yang telah dirumuskan. Makanya perlu ada mekanisme sistem agar nilai-nilai Pancasila dapat terwujud, maka dibutuhkanlah sebuah metode atau thariqah. Dari jawaban inilah yang sebenarnya bias menjawab bahwa Pancasila bukanlah sebuah ideologi karena hanya memuat sebuah konsep tanpa memiliki thariqah. Islam yang menyatukan antara konsep dan thariqah telah menjawab tuntas setiap permasalahan hidup. Di dalamnya tidak hanya mengajarkan tentang moralitas dan nilai-nilai kebaikan namun juga menyandingkannya dengan politik-pengaturan urusan umat. Memadukan antara inmaterial (ruhiyah) dengan materi (maddiyah), yang menyeimbangkan individu dengan masyarakat, antara hak dan kewajiban.
Di akhir sesi, para pembicara pembanding punya harapan besar agar Gema Pembebasan tetap membuka ruang-ruang diskusi dalam menjelaskan kepada berbagai pihak dan elemen gerakan mahasiswa di kampus mengenai ide-ide yang di thabanni, diadopsi oleh Gema Pembebasan. Oleh karena itu, terbentang jalan panjang bagi Gerakan Mahasiswa (GEMA) Pembebasan sebagai gerakan mahasiswa yang berasaskan Islam sebagai mainstream gerakan untuk membentuk opini Islam ideologis di kalangan mahasiswa dan pergerakan mahasiswa di Indonesia. Allahu Akbar. [Indrawirawan]
 
gema pembebasan sulselbar

 
gema pembebasan sulselbar

 
gp sulselbar



Komentar: 0

P E R H A T I A N : Komentar yang mengandung spam atau promosi produk akan dihapus!
Isi Komentar :

Nama :
Website : Tanpa http://
Email :
Komentar
(Masukkan 6 kode diatas)

 

Login User
Username :
Password :

Komentar Terakhir
Fb Fans Page


Kontak YM
  • iman_1924

  • Fahmi

  • Falsa M

  • Dimas G Randa

Chat Box


Nama :
Pesan


Jajak Pendapat
Apa yang seharusnya dilakukan oleh Pemuda dalam Perubahan Menuju Indonesia yang lebih baik?

Menjadi Pemuda yang memperjuangkan aspirasi Gema Pembebasan.
Memperjuangkan penerapan Syariah Islam secara Kaffah dengan tegaknya Khilafah.
Membenahi sistem pemerintahan yang sudah ada, kemudian melanjutkannya kembali.
Abstain.

Lihat Hasil Poling



Statistik Kunjungan
02179179


Pengunjung hari ini : 360

Total pengunjung : 431566

Hits hari ini : 1946

Total Hits : 2179179

Pengunjung Online: 7