GEMA PEMBEBASAN: Bersatu, bergerak, tegakkan ideologi islam!
Selamat Datang dan salam pembebasan dari kami! Follow us:

GP UA dalam Diskusi KAMMI UA

Kamis, 24 April 2014 - 17:14:15 WIB
Share:
Oleh: GEMA Pembebasan Wilayah Jatim | Dibaca: 1517x

Jumat, 18 April 2014, kawan-kawan KAMMI Komisariat Unair mengundang Gema Pembebasan untuk nimbrung dalam diskusi “Hipokrisi Demokrasi dalam Pemilu 2014” yang diselenggarakan di Warung Kopi Giras Ijo Jl. Jojoran Surabaya. Selain Gema, juga turut diundang kawan-kawan Magma, GMNI, PMII, PP, LAMRI, dan IMM.

Jam 19.00 WIB beberapa mahasiswa peserta diskusi dari KAMMI dan IMM sudah datang di TKP. Perwakilan dari Gema Pembebasan datang  jam 19.30 WIB. Kali ini yang hadir dari Gema adalah Ustad Naufal (Gema Jatim) dan Akhi Benny (Gema Unair). Setelah kehadiran Gema, diskusi langsung dibuka oleh moderator dari KAMMI.

Diskusi dibuka dengan pertanyaan pertama yang diajukan oleh moderator, yaitu: Sudah cocokkah sistem demokrasi diterapkan di Indonesia seperti yang terjadi sekarang ini?”. Ada argumen menarik dari salah seorang perwakilan IMM. Dia berkata bahwasanya demokrasi adalah sistem yang sudah pas diterapkan, mengingat banyaknya keberagaman dan kemajemukan masyarakat Indonesia saat ini. Masyarakat Indonesia terdiri dari berbagai macam suku bangsa, ras, budaya, bahasa daerah, dan lain-lain. Sangat sulit dan tidak mungkin apabila kemajemukan yang beraneka ragam tersebut diatur oleh sistem yang nantinya akan meminimalisir kebebasan mereka.

Ustad Naufal (Gema) memberikan pendapatnya. Beliau mengatakan bahwa secara konsep, demokrasi itu sudah salah. Kedaulatan bukan di tangan rakyat, namun di tangan Allah. Rakyat tidak berhak membuat hukum dan mengatur kehidupan seenak udelnya sendiri. Intinya dalam argumennya, Ustad Naufal menentang demokrasi dan memberi sistem Islam sebagai solusinya.

Ada Mas Arif Syaifulrizal (KAMMI) masuk memberikan tanggapan atas pernyataan Ustad Naufal. Intinya Mas Arif setuju jika sistem Islam yang diusung dan harus diperjuangkan. Namun cara memperjuangkannya harus menggunakan cara yang demokratis pula. Tidak main kekerasan dan anarkis. Artinya, pejuang syariat Islam dianjurkan untuk memperjuangkan Islam dari dalam sistem, harus ikut ke dalam parlemen atau partai. Namun Ustad Naufal langsung memberikan statement bahwa ada cara lain, yaitu lewat luar sistem. Tidak ada sejarahnya perubahan akan berhasil jika dilakukan dari dalam sistem. Sistem demokrasi tidak akan memberikan ruang pada manusia yang ada di dalamnya untuk mengganti/mengubah apa yang sudah menjadi aturan dalam sistem. Tidak terasa waktu sudah menunjukkan jam 21.00 WIB dan Gema pulang lebih awal karena sudah ditunggu agenda lainnya. [Benny]



Komentar: 0

P E R H A T I A N : Komentar yang mengandung spam atau promosi produk akan dihapus!
Isi Komentar :

Nama :
Website : Tanpa http://
Email :
Komentar
(Masukkan 6 kode diatas)

 

Login User
Username :
Password :

Komentar Terakhir
Fb Fans Page


Kontak YM
  • iman_1924

  • Fahmi

  • Falsa M

  • Dimas G Randa

Chat Box


Nama :
Pesan


Jajak Pendapat
Apa yang seharusnya dilakukan oleh Pemuda dalam Perubahan Menuju Indonesia yang lebih baik?

Menjadi Pemuda yang memperjuangkan aspirasi Gema Pembebasan.
Memperjuangkan penerapan Syariah Islam secara Kaffah dengan tegaknya Khilafah.
Membenahi sistem pemerintahan yang sudah ada, kemudian melanjutkannya kembali.
Abstain.

Lihat Hasil Poling



Statistik Kunjungan
02278004


Pengunjung hari ini : 177

Total pengunjung : 449041

Hits hari ini : 995

Total Hits : 2278004

Pengunjung Online: 6