GEMA PEMBEBASAN: Bersatu, bergerak, tegakkan ideologi islam!
Selamat Datang dan salam pembebasan dari kami! Follow us:

Pendidikan Indonesia Dalam Cengkeraman Kapitalisme-Sekuler, Saatnya Mahasiswa Melawan.!

Sabtu, 03 Mei 2014 - 17:55:48 WIB
      Penerapan Ideologi Kapitalisme-Sekurisme adalah penyebab bobroknya realitas dunia pendidikan di Indonesia.

2.      Perlawanan atas Ideologi Kapitalisme-Sekularisme adalah sebuah keniscayan bagi seluruh mahasiswa dan rakyat Indonesia yang menginginkan Indonesia lepas dari keterpurukan dan keterjajahan

3.      Kebangkitan yang hakiki hanyalah dapat diwujudkan dengan penerapan Islam sebagai Ideologi dan solusi bagi seluruh problematika multidimensi –termasuk problem pendidikan- yang melanda Indonesia, yakni dengan diterapkannya Syariah Islam dan Khilafah Islamiyyah sebagai satu-satunya Institusi Politik yang mampu menyelamatkan generasi bangsa menuju generasi yang berkepribadian luhur dalam rangka mewujudkan negara Indonesia yang berperadaban tinggi.  

Jakarta,2 Mei 2014
Ricky Fattamazaya
Sekjen PP GEMA Pembebasan
HP : 0823 9037 5415

 

 

 

 

 

' />
Share:
Oleh: GEMA Pembebasan Wilayah Jakarta Raya | Dibaca: 29857x

    Cengkeraman Kapitalisme telah mengakar dan menjalar ke dalam berbagai lini kehidupan termasuk dalam dunia pendidikan. Hal ini menimbulkan dampak serius mulai dari mahalnya biaya pendidikan hingga minimnya output SDM yang berkualitas, berkepribadian kuat dan luhur.

 

 Salah satu faktor yang menyebabkan masyarakat tak mampu mengenyam pendidikan adalah mahalnya biaya pendidikan. Hal ini kemudian berdampak pada angka putus sekolah yang sangat tinggi. "Anak-anak putus sekolah jumlahnya besar, 7,39 juta orang dari total angkatan kerja 118, 192 juta jiwa.  Pengangguran ini kebanyakan di Pulau Jawa sebesar 65,03 persen, selebihnya di Sumatera 20,3 persen, Sulawesi 5,06 persen, Kalimantan 4,52 persen, Bali dan Nusa Tenggara 3 persen, Maluku dan Papua 2,09 persen," ujar Dirjen Pendidikan Anak Usia Dini Non Formal dan Informal (PAUDNI)  Lydia Freyani Hawadi (REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA)

Realitas di lapangan juga menunjukkan rendahnya kemampuan para lulusan sekolah dalam menghadapi dan menyelesaikan berbagai persoalan. "Fakta ini bukan saja jika dilihat dari berbagai hasil survei lembaga survei internasional, tetapi juga dari fakta rendahnya kemampuan para lulusan sekolah kita. Sekolah saat ini bukan menjadi tempat yang tepat untuk menyiapkan manusia unggul tetapi justru sarat masalah. Bahkan, ada sekolah yang tidak lagi aman untuk menitipkan putra-putri kita," kata Ketua Umum PB Persatuan Guru Republik Indonesia (PB PGRI) Sulistiyo dalam refleksi menyambut Hari Pendidikan Nasional 2 Mei, di Jakarta, Kamis (Suara Pembaruan - 1/5/2014).   

Kehidupan sekuler-materialistik menjadi semakin ‘mengerikan’ tatkala publik dibuat  gempar dengan pelecehan seksual yang dialami murid Taman Kanak-Kanak Jakarta International School (JIS). Cerita lainnya datang menambah catatan hitam tentang abainya lembaga pendidikan terhadap keselamatan anak didiknya. Adalah Dimas Dikita Handoko yang meregang nyawa setelah menjadi korban kekerasan dari para seniornya di Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) tempat dia menuntut ilmu.

Bobroknya pendidikan pun diperparah dengan Liberalisasi Perguruan Tinggi yang dilegitimasi oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) melalui UU Perguruan Tinggi. Pada Pasal 77 terdapat pengelompokan status pengelolaan perguruan tinggi, yaitu otonom terbatas, semi otonom, dan otonom. Pada Ayat 4 dan 5 dalam pasal tersebut dijelaskan bahwa status otonom merupakan perguruan tinggi yang memiliki otonomi pengelolaan bidang akademik dan non akademik. Artinya pihak kampus diberi kewenangan mengelola perguruan tinggi dengan dana sendiri yang tidak lagi tergantung pada subsidi APBN. Tentu saja,  salah satu sumber utama dana mandiri tersebut adalah pembayaran yang dibebankan kepada mahasiswa. Tidak hanya itu, bahkan kampus dijadikan pabrik dengan logika mengundang investor untuk menanam modalnya dan jadilah kampus sebagai  pencetak generasi borjuis yang berkepribadian rendah dan penghasil uang bagi para pemilik modal.

Oleh Karenanya, melihat fakta kebobrokan dunia pendidikan yang semakin dicengkeram oleh ideologi Kapitalisme-Sekuler, Gerakan Mahasiswa Pembebasan sebagai instrumen yang lahir dan dibesarkan dalam dunia pendidikan dengan jelas  menyatakan :

1.      Penerapan Ideologi Kapitalisme-Sekurisme adalah penyebab bobroknya realitas dunia pendidikan di Indonesia.

2.      Perlawanan atas Ideologi Kapitalisme-Sekularisme adalah sebuah keniscayan bagi seluruh mahasiswa dan rakyat Indonesia yang menginginkan Indonesia lepas dari keterpurukan dan keterjajahan

3.      Kebangkitan yang hakiki hanyalah dapat diwujudkan dengan penerapan Islam sebagai Ideologi dan solusi bagi seluruh problematika multidimensi –termasuk problem pendidikan- yang melanda Indonesia, yakni dengan diterapkannya Syariah Islam dan Khilafah Islamiyyah sebagai satu-satunya Institusi Politik yang mampu menyelamatkan generasi bangsa menuju generasi yang berkepribadian luhur dalam rangka mewujudkan negara Indonesia yang berperadaban tinggi.  

Jakarta,2 Mei 2014
Ricky Fattamazaya
Sekjen PP GEMA Pembebasan
HP : 0823 9037 5415

 

 

 

 

 



Komentar: 0

P E R H A T I A N : Komentar yang mengandung spam atau promosi produk akan dihapus!
Isi Komentar :

Nama :
Website : Tanpa http://
Email :
Komentar
(Masukkan 6 kode diatas)

 

Login User
Username :
Password :

Komentar Terakhir
Fb Fans Page


Kontak YM
  • iman_1924

  • Fahmi

  • Falsa M

  • Dimas G Randa

Chat Box


Nama :
Pesan


Jajak Pendapat
Apa yang seharusnya dilakukan oleh Pemuda dalam Perubahan Menuju Indonesia yang lebih baik?

Menjadi Pemuda yang memperjuangkan aspirasi Gema Pembebasan.
Memperjuangkan penerapan Syariah Islam secara Kaffah dengan tegaknya Khilafah.
Membenahi sistem pemerintahan yang sudah ada, kemudian melanjutkannya kembali.
Abstain.

Lihat Hasil Poling



Statistik Kunjungan
02175613


Pengunjung hari ini : 32

Total pengunjung : 430720

Hits hari ini : 127

Total Hits : 2175613

Pengunjung Online: 8