GEMA PEMBEBASAN: Bersatu, bergerak, tegakkan ideologi islam!
Selamat Datang dan salam pembebasan dari kami! Follow us:

REFLEKSI KONGRES MAHASISWA INDONESIA (KMI) 2014

Selasa, 20 Mei 2014 - 08:17:56 WIB
Share:
Oleh: GEMA Pembebasan Wilayah Jabar | Dibaca: 4999x

REFLEKSI KONGRES MAHASISWA INDONESIA (KMI) 2014 :

“KHILAFAH : MAINSTREAM PERJUANGAN MAHASISWA,

TINGGALKAN DEMOKRASI : JALAN SEMU PERJUANGAN !!”

 

Hiruk pikuk kampanye caleg dan parpol untuk berebut kursi kekuasaan sudah menjadi fenomena biasa ketika menjelang pemilu baik legislatif maupun capres cawapres. Berbagai caleg dan parpol melakukakn segala cara agar dirinya dan parpol mendapat suara terbanyak di pemilu dan bisa duduk ditampuk singgasana yang konon akan membawa perubahan bagi negeri ini. Banyak parpol dan calegnya yang menjajikan perubahan bagi negeri ini. Nyatanya perubahan tak kunjung ada dan keterpurukan semakin merajalela dimana-mana di aspek  kehiudupan. Berbagai cara yang dilakukan para caleg bahkan telah meninggalkan rasionalitasnya demi bisa duduk di tampuk kekuasaan. Menjelang pemilu banyak tempat keramat meningkat tajam didatangi oleh para caleg. Tak hanya itu, para caleg pun mendatangi makam keramat, nyembah pohon besar, menggunakan jasa paranormal, dan dukun. Dalam kamapnye pun tak sedikit dari parrpol mempertontonkan keseronokanya dalam berkampanye, adegan porno, mengundang penyanyi seksi dengan pakaian yang serba mini, bahkan menyewa jasa SPG (Promotion Sales Girls). Fenomena ini terjadi bukan tanpa sebab ongkos besar yang terlanjur dikeluarkan saat kampanye membuat pola pikir seorang calon anggota legislatif tidak lagi rasional (lihat, detikNews, 4/3) dan ditambah dengan peluang berhasil sangat kecil  dan ketatnya persaingan antar caleg. Peluang seorang caleg hanya 10%. Untuk DPR ada 560 kursi, DPD ada 132 kursi, DPRD provinsi ada 2.112 kursi dan DPRD Kabupaten Kota 16.895 kursi. Total nasional ada 19.699 kursi. Jumlah kursi sebanyak itu diperebutkan oleh sekitar 200 ribu caleg DPR, DPD, DPRD I dan DPRD II. Artinya, hanya 10% caleg yang akan berhasil. Sekitar 180 ribu caleg atau 90 % dipastikan akan gagal.

Persaingan itu untuk kursi DPR malah lebih ketat lagi. Jumlah 560 kursi diperebutkan oleh 6.607 caleg. Hanya 8,5% yang akan lolos ke senayan. Sebanyak 6.047 caleg DPR dipastikan akan gagal.

Dan untuk tingkat DPR, hanya partai yang mendapat suara total nasional minimal 3,5% yag dikenal sebagai angka Parliamentary Treshold saja yang akan bisa duduk di DPR. Meski seorang caleg meraih suara terbanyak, jika partinya tidak lolos Parliamentary Treshold itu maka ambisinya akan kandas dan dia menjadi caleg gagal. Caleg yang gagal akan mengalami kegilaan karena kegagalan ini bisa menimbukkan stres. Berbagai cara mereka lakukan dengan rela menggadaikan aqidahnya dengan ongkos yang sangat besar. Menurut data Kemenkes, pada pemilu 2009, ada 7.736 caleg yang mengalami gangguan jiwa berat alias gila. Sebanyak 49 orang caleg DPR, 496 orang caleg DPRD I, 4 caleg DPD dan 6.827 orang caleg DPRD II.

Prof. Dadang Hawari memperkirakan, “pada 2014 ini saya pikir akan lebih banyak lagi caleg gila dibanding 2009.” (Media Umat, edisi 122). Bahkan dr. Teddy Hidayat, psikiater yang juga Ketua Penanggulangan Narkoba RS Hasan Sadikin Bandung, memprediksi stress caleg akan mencapai 30% baik bagi yang terpillih maupun yang gagal. (Galamedia, 21/1).

 

 

DEMOKRASI BUKAN JALAN PERUBAHAN TETAPI JALAN KETERJAJAHAN !

 

Melihat fenomena sebelum menjabat aja seperti itu, apa lagi kalau sudah menjadi anggota dewan. Yang pasti akan menanggung akibatnya tentulah rakyat. Perlu diketahui bahwa pemilu dalam demokrasi sangatlah mahal. Riset Pramono Anung menunjukkan, biaya kampanye pemilu 2009 naik 3,5 kali lipat dibandingkan pemilu 2004. Ia memperkirakan biaya kampanye akan naik lagi 1,5 kali lipat dari pemilu 2009. Secara rata-rata, biaya kampanye pada 2009 bagi caleg DPR mencapai Rp 3 miliar. Pemilu 2014 ini ia perkirakan rata-rata biaya kampanye caleg DPR mencapai Rp 4,5 miliar. Menurutnya, setidaknya dana kampanye yang harus disiapkan oleh seorang caleg DPR Rp 1,2 – 1,5 miliar.

Dalam beberapa pemberitaan, sejumlah caleg DPR mengaku sudah menyiapkan dana kampanye Rp 6 miliar. Untuk calon DPD dan caleg DPRD I serta DPRD II setidaknya dana yang harus disiapkan pada angka ratusan juta rupiah.

Yang jadi pertanyaanya adalah berasal dari mana dananya?sangat kecil dari kantong pribadi apa lagi parpol. Kekayaan presiden aja tidak cukup untuk membiayai menjadi anggota dewan apalagi yang lain. Dan yang pasti dan kuat asal dana mereka adalah para pemilik modal/ kapitalis/ pengusaha baik asing ataupun lokal. Dan tidak mungkin para pengusaha atau kapialis memberikanya cuma-cuma, gila aja memberikan dana milyaran rupiah ke orang tanpa menginginkan balas budi. Dan perlu diingat orientasi perusahaan adalah profit, otomatis dana yang dikeluarkan merupakan inevetasi politik yang akan menguntungkan bagi kapitalis dan perusahaanya. Dari sinilah penguasa dan pengusaha kongkalingkong jahat. Anggota DPR yang salah satu tugasnya adalah legislasi atau membuat UU tentu disini akan bercampur dengan berbagai kepentungan tentunya bukan kepentingan rakyat yang mereka perjuangkan, tapi pemberi dana kampamye. Pada akhirnya munculah UU yang sangat tidak pro rakyat bahkan jelas-jelas pro asing atau kapitalis, seperti UU SDA yang mengatakan negara hanya mengelolah SDA 25% dan 75% diserahkan ke swasta dan asing. Ironis, padahal itu adalah milik ummat yang harusya hasil dari SDA dinikmati oleh ummat, justru sebaliknya, SDA banyak dirampok oleh perusahaan asing seperti Chevron, total, dll. Inilah penjajhan gaya baru yang dilakukan oleh negara penjajah, melalui demokrasi meraka bisa menguras habis SDA Indonesia, dan potensi yang dimliki Indonesia. Makanya bisa dikatakan secara tegas tanpa kompromi bahwa Demokrasi bukanlah jalan perubahan tetapi jalan keterjajahan !!

 

USUNG KHILAFAH SEBAGAI MAINSTREAM PERJUANGAN MAHASISWA !!

Sejatinya mahasiswa memiki daya analisis yang tajam terhadapa fakta masalah yang terjadi di negeri ini, bahwa demokrasi adalah alat penjajahan gaya baru negara imprealis, tidak cukupkah fakta-fakta yang terkuak begitu jelasnya di mata anda. Buang harapan perubahan anda kepada demokrasi wahai mahasiswa !!. Sungguh demokrasi-lah yang menjadikan negeri dalam keterjajahan. Saatnya anda wahai mahasiswa, menjadikan KHILAFAH sebagai mainstream perjuangan anda. Hal ini sudah menjadi tekad mahasiswa seluruh Indonesia yang berkumpul pada acara akbar yakni KONGRES MAHASISWA INDONESIA 2014 yang diadakan di Bandung 2 maret 2014 di depan Gedung Sate yang diselenggarakan oleh GERAKAN MAHASISWA PEMBEBASAN. Lebih dari seribu perwakilan aktivis mahasiswa seluruh Indonesia menyatakan sikap teguh dan kokoh bahwa KHILAFAH  akan menjadi mainsteram perjuanganya dalam mengusung perubahan untuk kebangkitan Indonesia. Dan bersama-sama menjadikan Kapitalsme Demokrasi sebagai Common Enemy.

Tinggalkan demokrasi jalan semu perjuangan !!!

#KMI4Revolution

Mufid Dahlan

Ketua Gema Pembebasan Wilayah Jawa Barat



Komentar: 0

P E R H A T I A N : Komentar yang mengandung spam atau promosi produk akan dihapus!
Isi Komentar :

Nama :
Website : Tanpa http://
Email :
Komentar
(Masukkan 6 kode diatas)

 

Login User
Username :
Password :

Komentar Terakhir
Fb Fans Page


Kontak YM
  • iman_1924

  • Fahmi

  • Falsa M

  • Dimas G Randa

Chat Box


Nama :
Pesan


Jajak Pendapat
Apa yang seharusnya dilakukan oleh Pemuda dalam Perubahan Menuju Indonesia yang lebih baik?

Menjadi Pemuda yang memperjuangkan aspirasi Gema Pembebasan.
Memperjuangkan penerapan Syariah Islam secara Kaffah dengan tegaknya Khilafah.
Membenahi sistem pemerintahan yang sudah ada, kemudian melanjutkannya kembali.
Abstain.

Lihat Hasil Poling



Statistik Kunjungan
02277923


Pengunjung hari ini : 172

Total pengunjung : 449036

Hits hari ini : 914

Total Hits : 2277923

Pengunjung Online: 4