GEMA PEMBEBASAN: Bersatu, bergerak, tegakkan ideologi islam!
Selamat Datang dan salam pembebasan dari kami! Follow us:

RAIH KEMERDEKAAN HAKIKI : HANYA DENGAN IDEOLOGI ISLAM

Jumat, 04 September 2015 - 20:13:51 WIB
Share:
Oleh: GEMA Pembebasan Wilayah Kalbar | Dibaca: 269x
JAS MERAH (Jangan Lupakan Sejarah)!! Begitulah yang bung Karno sampaikan dalam salah satu pidatonya. Sejarah tentu saja tidak akan pernah lupa, sejarah telah menulis dengan tinta-tinta bahwa tonggak perjuangan negeri ini ditandai dengan proklamasi kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945. Sejarah juga telah mencatat bermacam bentuk perjuanganrakyat dan pemuda demi meraih dan mempertahankan kemerdekaan ini. Kini setelah kemerdekaan ini genap berumur 70 tahun. Timbullah sebuah pertanyaan dibenak kita : “Apakah kita
 
Ilusi Sebuah Kemerdekaan 
 
Benarkah kita telah merdeka? Ketika kondisi negeri ini semakin terpuruk. Kekayaan negeri ini begitu luar biasa. Namun kita, sebagai anak bangsa yang katanya telah merdeka ini hanya bisa menyaksikan penjarahan dan eksploitasi Sumber Daya Alamkita oleh asing. Kita boleh saja bangga melihat bahwa negeri ini kaya raya. Hanya saja lihatlah, untuk siapa kekayaan itu sebenarnya. Lebih dari 60% perkebunan dikuasai oleh asing. Eksploita benar-bemerdeka?”nar telah si minyak dan gas sekitar 80% juga dikuasai perusahaan asing. Dan yang lebih mencengangkan lagi, dominasi asing dibidang investasi mineral diatas 90%. 
 
Benarkah kita telah merdeka? Ketika birokrasi negeri ini amburadul dan terus diintervensi oleh asing. Menurut Rizal Ramli, setidaknya ada 20 UU yang pembuatannya didanai asing.  Sementara Eva Kusuma Sundari (tempo.co.id), berdasar info dari BIN, mengatakan ada 76 UU yang draft-nya dilakukan pihak asing. Faktanya ada berbagai UU energi primer telah diubah oleh asing. UU No. 22/2001 tentang minyak dan gas bumi, pembuatannya dibiayai oleh USAID dan World Bank sebesar 40 juta dolar AS. UU No. 20/2002 tentang kelistrikan dibiayai oleh Bank Dunia dan ADB sebesar 450 juta dolar AS. UU No.7/2004 tentang Sumber Daya Air pembuatannya dibiayai oleh Bank Dunia sebesar 350 juta dolar AS. (Abdullah Sodik, SP Pertamina, “Pengelolaan Migas Amburadul?” Jakarta, 12 Juni 2008). Lalu apa bedanya pemerintahan hari ini dengan pemerintahan pada masa penjajahan? Ketika hari ini penguasa kita menjadi kaki tangan penjajah yang menerapkan aturan yang dibuat penjajah. 
Benarkah kita telah merdeka? Ketika pendidikan semakin sulit dan mahal. Faktanya jumlah mahasiswa Indonesia saat ini baru 4,8 juta orang. Bila dihitung terhadap populasi penduduk berusia 19-24 tahun, maka angka partisipasi kasarnya baru 18,4 persen. Bahkan pada tahun 2014 Indonesia hanya mampu menargetkan Angka Partisipasi Kasar (APK) Mahasiswa sebesar 30%. 70% sisanya tentu saja tidak akan mengenyam bangku kuliah dengan berbagai alasan termasuk ketiadaan biaya.
 
Benarkah kita telah merdeka? Ketika semuanya menjadi semakin sulit : pendidikan, kesehatan, pekerjaan semakin sulit didapat. Sehingga kesejahteraan menjadi angan-angan yang juga sulit didapat. Bahkan ketimpangan sosial-ekonomi semakin menjadi-jadi ditengah masyarakat. Kita tentu masih ingat akan gerakan Occupy Wallstreet di Amerika Serikat atau gerakan 99% yaitu gerakan yang menyerukan perlawanan 99% penduduk bumi terhadap keserakahan 1% penduduk bumi lainnya dalam menguasai Sumber Daya Alam. Saat ini indeks dini Amerika adalah 0,477 (artinya 1% penduduk amerika menguasai 47% kekayaan amerika). Ketua DPD RI era SBY, Irman Gusman menyatakan, “Menurut data Forbes, rasio gini di Indonesia adalah 0,41 pada tahun 2012. “Artinya, 1% penduduk menguasai 41% kekayaan negara”. 1% orang inilah mereka yang memiliki pendapatan tinggi. Mereka yang menguasai SDA negeri ini, sebagaian besar dari mereka adalah para pemilik modal (kapitalis). Kapitalis adalah mereka yang menjadikan Kapitalisme sebagai ideologi (pandangan hidup). Pandangan ini berusaha memisahkan agama dari kepengurusan kehidupan dan memisahkan negara dari kepengurusan ekonomi. 
 
Lantas adilkah jika 1% dari 250 juta penduduk Indonesia menikmati 41% kekayaan negara sedangkan 99% lainnya termasuk kita harus terlunta-lunta memperebutkan 59% sisanya? Pada masa penjajahan, kesejahetraan hanya dinikmati oleh segelintir orang (yakni penjajah dan penduduk pribumi antek-antek para penjajah). Lantas apa bedanya masa kita dengan masa penjajahan, ketika kesejahteraan hanya dinikmati oleh segelintir orang saja. Inilah yang disebut dengan Ilusi Sebuah Kemerdekaan.
 
Hakikat Penjajahan Gaya lama (Imperealisme) dan Penjajahan Gaya Baru (Neo-Imperealisme)
 
Kelahiran Imperealisme (penjajahan) diawali dengan kebangkitan industri negara-negara di Eropa sejak revolusi Prancis pada tahun 1776 yang dikenal dengan abad Renaissance. Revolusi Prancis ini juga menjadi tonggak lahirnya Ideologi Kapitalisme yang merupakan ibu kandung dari Imperealisme. Kapitalisme adalah sebuah ideologi yang lahir dari pertentangan antara penguasa dengan intelektual. Penguasa-penguasa di Eropa pada saat itu menjadikan agama sebagai alat untuk memerintah rakyat dan melegitimasi kesewenang-wenangan dengan mengatas namakan Tuhan. Kesewenang-wenangan penguasa kala itu berhasil menyebabkan kesengsaraan yang luar biasa ditengah-tengah rakyat. Sistem Inilah yang kemudian dikenal dengan istilah Teokrasi.
Berangkat dari kondisi ini lahirlah para intelektual yang menentang kezhaliman penguasa. Mereka yang kemudian mendapatkan dukungan rakyat menuntut terjadinya perubahan sistem secara fundamental. Maka lahirlah Ideologi Kapitalisme yang menjadikan Sekularisme (pemisahan agama dari pengurusan kehidupan) sebagai asas fundamennya. 
 
Kapitalisme sebagai ideologi tentunya mengharuskan adanya seperangkat metode baku untuk mengatur jalannya aktivitas kehidupan ditengah-tengah rakyat. (1) Maka lahirlah Demokrasi (kedaulatan berada ditangan rakyat) sebagai metode dalam menjalankan pemerintahan, (2) dalam bidang ekonomi lahirlah sistem ekonomi Kapitalisme atau juga dikenal sebagai sistem ekonomi Liberal yang menganggap campur tangan negara dalam urusan ekonomi sebagai sebuah masalah sehingga mengharuskan negara untuk melepaskan kepengurusan ekonomi pada mekanisme pasar bebas, (3) Liberalisme atau dikenal dengan pergaulan bebas adalah metode yang digunakan Kapitalisme untuk mengatur pergaulan sosial ditengah-tengah masyarakat.
 
Tidak cukup sampai disitu, sebagai sebuah ideologi, Kapitalisme ternyata juga membutuhkan sebuah metode untuk menyebarluaskan ideologinya keseluruh dunia. Imperealisme (penjajahan) merupakan satu-satunya metode untuk menyebarkan Kapitalisme hingga kini mampu menghegemoni dunia.
 
Gold, Glory and Gospel merupakan semboyan para pelaut Eropa saat itu untuk mendapatkan kekayaan, menemukan wilayah baru dan menyebarluaskankan agama. Pada mulanya mereka mendirikan Muti National Corporation (MNC) sebagai lembaga dagang untuk menjalin transaksi dengan penduduk pribumi. Di Indonesia berdirilah VOC, lembaga dagang milik Belanda ini kemudian mampu menguasai dan memonopoli pasar. Untuk menjaga eksistensi dari ancaman negara Kapitalis lain dan mengatasi perlawanan dari penduduk lokal dimulailah masa konfrontasi militer. Masa-masa inilah yang lebih kita kenal dengan masa Imperealisme (penjajahan). Dimana para penjajah membentuk pemerintahan kolonial di wilayah-wilayah jajahannya.
 
Pada perang dunia II terjadi perubahan peta politik global secara drastis. Inggris yang merupakan negara adidaya dunia sebelum perang dunia II harus rela menanggalkan gelarnya. Keluarlah Amerika Serikat menjadi kekuatan global baru, sebagai negara Kapitalis adidaya nomer 1 di dunia. Tidak hanya itu, Amerika Serikat berhasil merubah metode penyeberluasan Ideologi Kapitalisme berupa Imperealisme gaya lama dari konfrontasi militer menjadi Neo-Imperealisme (penjajahan gaya baru) yang diikuti oleh negara-negara kapitalis lain seperti Inggris dan Prancis. 
 
Hal ini seperti yang diungkapkan salah seorang anggota DPR RI Effendi Simbolon “Indonesia sedang didominasi asing dalam bidang ekonomi, politik, sosial dan budaya. Selain itu, kini betapa dahsyatnya gempuran Neo-kolonialisme dan Imperealisme di Indonesia. Seluruh Tanah Air kita telah ada dalam jajahan kaum Kapitalis” dikutip dari al-wa'ie edisi Mei 2015. 
 
Neo-Imperealisme (penjajahan) pada abad ini memakai cara, gaya atau model yang jauh berbeda dari Imperealisme sebelumnya. Jika sebelumnya menggunakan kekuatan militer kini para Kapitalis Penjajah mengelola wilayah jajahannya menggunakan agen-agen, tsaqofah (pemikiran) dan uang.
Adapun para agen-agen ini adalah mereka yang secara sadar ataupun tanpa sadar selalu menjaga kepentingan kapitalis penjajah. Fungsi agen-agen ini adalah untuk membuat undang-undang yang melegislasi penjajahan berupa eksploitasi kekayaan negeri ini. Sehingga penjajahan menjadi sesuatu yang sah dimata konstitusi atau undang-undang kita.
 
Misalkan saja kebijakan liberalisasi sektor hulu migas. Undang-Undang Penaman Modal Asing menyebapkan penjajahan disektor hulu migas semakin menjadi-jadi. Data kementrian ESDM menunjukan dari 315 juta barel minyak dan kondensat yang diproduksi tahun 2012. Sebanyak 72% diproduksi oleh perusahaan asing. Mereka antara lain Chevron perusahaan asal AS(43%),otal E&P yang bermarkas di Prancis (8%), Conoco yang juga berasal dari AS (6%) dan CNOOC perusahaan asal Tiongkok (4%). Perusahaan-perusahan inilah yang disebut dengan Muti National Corporation (MNC). 
 
Tidak hanya menempatkan agen-agen. Para penjajah juga menggunakan uang sebagai cara untuk menjajah suatu negara. Contohnya adalah liberalisasi sektor hilir migas dengan dicabutnya subsidi BBM yang juga merupakan permintaan asing melalui World Bank (Bank Dunia) dengan menjadikan pengurangan hingga pencabutan penuh subsidi BBM sebagai syarat pemberian utang seperti tercantum di dalam dokumen Indonesia Country Assistance Strategy (World Bank, 2001). Itulah sebenarnya alasan mendasar dari semua program pengurangan subsidi, termasuk pengurangan subsidi energi (BBM dan listrik). Juga tertuang dalam dokumen program USAID, TITLE AND NUMBER: Energy Sector Governance Strengthened, 497-013 menyebutkan: “tujuan strategis ini akan menguatkan pengaturan sektor energi untuk membantu membuat sektor energi lebih efisien dan transparan, dengan jalan meminimalkan peran pemerintah sebagai regulator, mengurangi subsidi”.
 
Hasil dari pencabutan subsidi ini tentu saja hanya akan menguntukan Kapitalis Penjajah. Disisi lain rakyatlah yang akan dirugikan karena harga BBM yang fluktuatif (naik-turun) akan berdampak pada melonjaknya harga kebutuhan pokok. Sedangkan Kapitalis Penjajah akan diuntungkan karena pengendara bermotor akan beralih ke SPBU milik asing  seperti dikutip dari laman Repubilka Online “Seminggu setelah kenaikan harga bahan bakar minyak masyarakat pengguna sepeda motor mulai mengonsumsi BBM swasta atau industri yang ada di SPBU disepanjang jalan sekitar Jakarta”. Sekali lagi yang diuntungkan adalah Perusahaan-perusahan Muti National Corporation (MNC) milik Kapitalis Penjajah seperti Total, Petronas, Shell.
 
Lebih hebat lagi, untuk menjaga eksistensinya para penjajah ini berusaha merubah pemikiran kita sesuai dengan pemikiran mereka hingga kita lupa akan identitas diri kita (yakni seorang muslim). Mereka juga melakukan serangan melalui kebudayaan dan merendahkan taraf berfikir politik masyarakat. Mereka melakukan semua itu. 
Mereka berusaha mendistorsikan (mengubah) makna penjajahan menjadi sesuatu yang mulia sehingga kita merasa bahwa kondisi kita yang tengah dijajah seperti saat ini adalah  kondisi yang biasa saja. Bahkan sebagian dari kita membanggakan dan memperjuangkan Ideologi Kapitalisme (Demokrasi, Ekonomi Liberal, Pergaulan Bebas) yang jelas-jelas merupakan alat penjajahan. Para penjajah ini juga membuat sistem pendidikan kita begitu sekuler (memisahkan agama dari kepengurusan aktivitas kehidupan). Sehingga kita menjadikan agama hanya sebagai ibadah ritual belaka. Sehinngga para intelektual kita dan ahli ekonomi kita terdidik dengan ideologi mereka. Sekalipun para intelektual dan ahli ekonomi kita berjuang dengan ikhlas demi rakyat namun solusi yang dicetuskan tetap saja dalam kerangka berfikir penjajah.
 
Akhirnya penjajah akan terus menghisap darah dan kekayaan kita. Inilah realitas yang sebenarnya terjadi. Bahwa sesungguhnya kita tengah hidup dalam ilusi sebuah kemerdekaan karena bangsa ini benar-benar tengah berada dimasa Neo-imperealisme dan Neo-liberalisme akibat negara mengemban Ideologi Kapitalisme beserta Demokrasi, Sistem Ekonomi Kapitalisme dan Liberalisme sebagai metode mengatur aktivitas ditengah-tengah masyarakat.
 
Kemerdekaan Hakiki : Hanya dengan Ideologi Islam
 
Jika kita telah memahami hakikat penjajahan adalah dirampas hak milik kita atas kedaulatan, kekayaan, dan identitas diri oleh penjajah. Penjajah adalah mereka yang berusaha agar kita menerapkan Ideologi Kapitalisme. Penjajah ini juga menjadikan penguasa kita sebagai agen-agen dan meracuni kita dengan pemikiran mereka. Maka sudah saatnya kita sadar dan bangun dari tidur panjang ini. Sudah saatnya kita mulai menyadarkan saudara-saudara kita dan rakyat yang masih memiliki keikhalsan didalam dirinya untuk berjuang bersama meraih kemerdekaan hakiki.
 
Sejarah telah membuktikan bahwa perjuangan bangsa ini melawan penjajahan selalu diawali oleh pergerakan mahasiswa. Pergerakan Budi Oetomo 1928, Tumbangnya Orde Lama 1966, Reformasi 1998 adalah bentuk perjuangan mahasiswa terhadap penjajahan Kapitalisme. Tentu saja keberhasilan mereka menumbangkan rezim tercatat dengan tinta emas. Sayangnya mereka gagal melawan penjajahan abad 21 yakni Penjajahan Kapitalisme-Demokrasi dengan Neo-Imperealismenya. Sehingga rezim pengganti yang berkusa setelahnya tetap saja merupakan kaki tangan Kapitalisme.
 
Kegagalan perjuangan mahasiswa menumbangkan Kapitalisme ini disebabkan oleh salahnya ideologi yang mereka anut. Harusnya gerakan mahasiwa hanya menjadikan Ideologi Islam sebagai tujuan dan metode perjuangan karena hanya Ideologi Islam yang terbukti benar, memuaskan akal dan menetramkan jiwa.
 
Untuk itu Gerakan Mahasiswa (Gema) Pembebasan Kalimantan Barat mengajak kepada seluruh mahasiswa muslim untuk Bersatu, Bergerak, Tegakkan Ideologi Islam. Gema Pembebasan adalah sebuah pergerakan politik berbasis intelektual mahasiswa yang menjadikan Islam sebagai ideologi dan metode meraih tujuan.
 
Berbeda dengan Kapitalisme-demokrasi yang lahir dari akal manusia, Islam merupakan Ideologi yang diturunkan langung oleh Sang Pencipta Manusia. Zat yang paling mengerti bagaimana cara mengatur ciptannya. Islam sebagai sebuah Ideologi memiliki fakta historis yang menakjubkan. Islam telah diterapkan hampir mencapai 1400 tahun sebagai Ideologi negara dengan khilafah sebagai institusinya. Kekuasaan Khilafah pernah mencapai 2/3 dunia dan para penguasa (Khalifah)nya mampu memberikan kesejahteraan yang luar biasa. Bahkan seorang intelektual barat, Bernard Lewis dalam bukunya What Went Wrong mengatangan “Islam merupakan kekuatan militer yang paling besar didunia dan kekuatan ekonominya adalah kekuatan ekonomi terdepan didunia. Islam telah mencapai tingkat tertinggi selama ini dalam sejarah manusia. Dalam seni dan ilmu pengetahuan”.
 
Adapun metode yang diadopsi Gema Pembebasan merupakan metode yang di contokan Rasulullah SAW dalam menegakkan dan mendakwahkan Islam. Ada 3 tahapan yang Rasulullah contohkan. Pertama, marhalah tasqif wa taqwin (pengkaderan) yakni tahap untuk mendidik kader dakwah yang hanya mengemban Islam sebagai ideologi dan mencampakkan ideologi-ideologi lain. Inilah yang terwujud dalam Halaqoh pembebasan. Kedua, tahap berinteraksi (tafa'ul wal kifah) dengan umat yakni tahapan untuk meraih dukungan umat (rakyat) dengan jalan membongkar setiap jenis penghianatan penguasa, menjelaskan kebobrokan sistem kapitalisme-demokrasi dan memberikan solusi setiap permasalahan hanya dengan solusi Islam. Tahapan ini mewujud pada kegiatan-kegiatan berupa diskusi jalanan, Dialogika (diskusi kritis antar mahasiswa) ,unjuk pemikiran, kajian tematik, dll. Ketiga, tahapan menerapkan hukum Islam (tathbiq ahkamul Islam) dan menerima kekuasaan secara menyeluruh melalui dukungan umat (rakyat) hingga Ideologi Islam dapat diemban dan disebarluaskan oleh rakyat dan negara.
 
Bergabunglah bersama Gema Pembebasan untuk melawan segala macam bentuk penjajahan Kapitalisme-demokrasi secara intelektual tanpa kekerasan serta mencampakkanya ke dalam keranjang sampah peradaban, memperjuangkan kembalinya kehidupan Islam dan meyambut Bisyarah (kabar gembira) Rasullulah Akhir Zaman: “Tegaknya Islam kembali dalam naungan Khilafah Islamiyah”.

….kemudian akan tegak ke-Khilafah-an sesuai metode ke-Nabi-an…(H.R.Ahmad)

*Penulis adalah Aktivis GEMA Pembebasan Wilayah Kalimantan Barat dan mahasiswa semester 4 Fak.Pertanian


Komentar: 0

P E R H A T I A N : Komentar yang mengandung spam atau promosi produk akan dihapus!
Isi Komentar :

Nama :
Website : Tanpa http://
Email :
Komentar
(Masukkan 6 kode diatas)

 

Login User
Username :
Password :

Komentar Terakhir
Fb Fans Page


Kontak YM
  • iman_1924

  • Fahmi

  • Falsa M

  • Dimas G Randa

Chat Box


Nama :
Pesan


Jajak Pendapat
Apa yang seharusnya dilakukan oleh Pemuda dalam Perubahan Menuju Indonesia yang lebih baik?

Menjadi Pemuda yang memperjuangkan aspirasi Gema Pembebasan.
Memperjuangkan penerapan Syariah Islam secara Kaffah dengan tegaknya Khilafah.
Membenahi sistem pemerintahan yang sudah ada, kemudian melanjutkannya kembali.
Abstain.

Lihat Hasil Poling



Statistik Kunjungan
02023649


Pengunjung hari ini : 44

Total pengunjung : 385344

Hits hari ini : 152

Total Hits : 2023649

Pengunjung Online: 4