GEMA PEMBEBASAN: Bersatu, bergerak, tegakkan ideologi islam!
Selamat Datang dan salam pembebasan dari kami! Follow us:

Menyoroti Konflik Kepentingan Para Elit Politik dan Korporat di Tambang Emas Tumpang Pitu

Selasa, 08 Maret 2016 - 22:37:56 WIB
Share:
Oleh: GEMA Pembebasan Wilayah Jakarta Raya | Dibaca: 4586x

“Adanya tambang menyebabkan konflik di masyarakat,” kata Rosdi, Kamis, 26 November 2015.

Banyuwangi's Forum For Environmental Learning (BaFFEL) mencatat, dalam satu bulan telah terjadi benturan warga penolak tambang dengan TNI dan Polri. Yakni pada tanggal 19 Oktober, 22 November, dan 25 November 2015. Benturan tersebut akhirnya mengakibatkan warga setempat yang menjadi korban kekerasan, seperti penembakan dan penganiayaan.

Menurut Jubir BaFFEL, Rosdi Bahtiar Martad, adanya konflik tersebut membuktikan hadirnya pertambangan emas tidak selaras dengan kultur masyarakat setempat. Konflik berpotensi terus berlangsung apabila PT Bumi akan menaikkan tahap eksploitasi tambang emas pada 2016. “Jika pemerintah tetap mengizinkan perusahaan tambang beroperasi, maka akan memicu konflik berikutnya,” katanya.

Dalam catatan Tempo, konflik berawal karena tuntutan masyarakat setempat tidak dikabulkan perusahaan. Warga menuntut agar PT Bumi Suksesindo  dan pemerintah lebih terbuka dalam mengelola tambang dan mempekerjakan penduduk setempat. Warga juga kecewa karena kawasan hutan lindung Gunung Tumpang Pitu diturunkan fungsinya menjadi hutan produksi dan dipakai sebagai kawasan pertambangan. [1]

Penolakkan tambang emas di Kawasan Gunung Tumpang Pitu, Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi sudah berlangsung sejak tahun 1997. Didik, salah satu warga Pesanggaran, Banyuwangi menyebutkan, penolakan tambang karena imbas dari penambangan tersebut mengganggu warga. "Bayangkan hutan lindung dirambah. Penolakkan ini dilakukan sejak tahun 1997," kata Didik, Kamis (26/11/2015). 

Selain itu, Gunung Tumpang Pitu ini menjadi pelindung warga dari tiupan angin barat daya. Angin tersebut sangat kencang dan bisa memporak-porandakan rumah milik warga. "Adanya gunung itu, ketika angin barat daya bertiup genteng rumah saja bisa terangkat. Apalagi kalau tidak ada gunung," jelas Didik. [2]

Setelah 24 tahun dieksplorasi, sejak 1991, tambang emas Tujuh Bukit di Kabupaten Banyuwangi akhirnya resmi jadi tambang ‘sungguhan’. Dalam artian, tambang ini boleh diobrolkan secara terbuka dan disoroti publik karena perusahaan pengelolanya, sejak 16 Juni 2015, sudah resmi menjadi perusahaan terbuka atau perusahaan publik: PT Merdeka Copper Gold Tbk yang merupakan induk perusahaan PT Bumi Suksesindo.

Sebelum diambil alih oleh PT Merdeka Copper Gold, tambang yang sangat menggiurkan ini dikuasai oleh PT Indo Multi Niaga (IMN) yang telah mengantongi izin kuasa eksplorasi pertambangan emas di Gunung Tumpang Pitu.

PT IMN telah melakukan eksplorasi tambang emas di Tumpang Pitu sejak 2007 lalu. Dalam laporan majalah Tempo edisi Senin, 22 Oktober 2012 disebutkan tiga dari rencana lima zona eksplorasi pada 2009 memperlihatkan potensi emas Tujuh Bukit mencapai 2 juta ounce dan perak 80 juta ounce. Nilai tambangnya ditaksir sekitar US$ 5 miliar atau sekitar Rp 50 triliun.[3]

Persoalan sempat muncul terkait perebutan tambang emas yang menggiurkan ini, terutama karena adanya tumpang tindih atau sengketa kepemilikan saham perusahaan di IMN. Awalnya, IMN menjalin kerjasama dengan mitranya asal Australia, Intrepid Mines Limited.

Di IMN, Interpid bertindak sebagai penyandang dana dari seluruh kegiatan operasional perusahaan. Sebagai penyandang dana, intrepid dijanjikan keuntungan hingga 80% dari produksi IMN. Saat kerjasama diteken, undang-undang belum membolehkan perusahaan asing memiliki saham di perusahaan kuasa pertambangan, sehingga disepakati membentuk perusahaan modal asing (PMA).

Tahun 2009 pemerintah menetapkan UU Minerba No 4/2009 yang mengizinkan perusahaan asing menanamkan modal langsung dalam perusahaan pemegang IUP (ijin Usaha Pertambangan).Alhasil PT IMN dan Intrepid sepakat membentuk struktur perusahaan baru sesuai dengan kesepakatan kerja sama sebelumnya. Selama kerjasama, Intrepid mengklaim telah menggolontorkan dana hingga AU$ 100 juta untuk mendanai proyek IMN. Akan tetapi di tengah jalan saham PT IMN berpindah tangan secara misterius.

Perselisihan menjadi ruwet dan berujung pada ancaman untuk memperkarakan sengketa ke pengadilan, lantaran Intrepid merasa dikhianati IMN. Sejak memutuskan bergandengan tangan pada Agustus 2007, Intrepid, yang masuk melalui anak usahanya, Emperor Mines Limited, mengaku sudah merogoh kocek sekitar US$ 100 juta alias hampir Rp 1 triliun. Tapi, di tengah jalan, mereka melihat ada tanda-tanda mitranya bermain belakang, bahkan ada kabar telah mengalihkan sahamnya ke perusahaan lain.

Dalam sebuah pernyataan kepada bursa saham Australia, Intrepid menyebutkan soal pengalihan itu. Mereka mengatakan 80 persen saham IMN diyakini telah berpindah tangan dari pemegang sebelumnya, yakni pasangan suami-istri Andreas Reza Nazaruddin dan Maya Miranda Ambarsari. Pemilik terbaru disebut-sebut adalah PT Cinta Kasih Abadi, PT Selaras Karya Indonesia, Andreas Tjahjadi, dan Rahmad Deswandy.

Andreas Tjahjadi tercatat sebagai presiden komisaris di IMN, sekaligus direktur non-eksekutif di Seroja Investment, perusahaan yang berbasis di Singapura, yang menangani pengangkutan batu bara produksi PT Adaro Energy Tbk. Selain Andreas, direktur di Seroja Investment adalah Edwin Soeryadjaya, presiden komisaris di Adaro Energy.

Interpid, yang juga punya saham PT IMN, memasukkan nama Surya Paloh, bos Media Group, sebagai “penjaga”. Pemimpin eksekutif Intrepid, Brad Gordon, mengatakan masuknya juragan Media Group itu ke perusahaannya bertujuan membantu mempromosikan perusahaan dan kepentingan bisnisnya di Indonesia. Surya Paloh, kata Gordon, memiliki bisnis yang beragam, dari perminyakan dan gas sampai hotel dan properti.

Para analis pertambangan di Australia mengatakan posisi Surya tak lain merupakan beking bagi Intrepid. Maklum, bekas politikus Golkar yang kini mendirikan dan menjadi Ketua Umum Nasional Demokrat (Nasdem) itu ”dihadiahi” saham di tengah memanasnya sengketa antara Intrepid dan IMN. ”Masuknya Surya Paloh dimaksudkan untuk mendapat dukungan pengaruh dalam bernegosiasi dengan pihak-pihak lain yang beperkara,” ujar Peter Gray, analis dari Hartley’s Ltd, seperti yang Pernah ditulis Australian Associated Press.

Hubungan panas itulah yang memunculkan dugaan kuat di kalangan petinggi Intrepid bahwa ada pengaruh Edwin di balik pengalihan saham IMN.  Kemunculan Surya Paloh dalam pilpres tahun 2014 juga ditengarai ada keterkaitan dengan Emas Tumpang Pitu. [4]

Kini, pengendali tambang emas di Tumpang Pitu bermetamorfosa, dikendalikan orang terkaya di Indonesia, jenderal TNI, hingga anak presiden menjadi 'penjaga' perusahaan tambang emas di Banyuwangi PT Merdeka Copper Gold Tbk. (MDKA) yang listing di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Jumat (19/6/2015).

Jajaran orang-orang penting tercatat duduk di kursi komisaris Merdeka Copper Gold. Dua orang miliarder Indonesia duduk sebagai komisaris, yakni Edwin Soeryadjaya dan Garibaldi Thohir.

Edwin Soeryadjaya, pemilik PT Saratoga Investama Sedaya Tbk. bersama dengan Sandiaga Salahuddin Uno, tercatat sebagai orang terkaya ke-17 di Indonesia versi majalah Forbes 2015. Dia ditaksir memiliki kekayaan mencapai US$1,19 miliar.

Garibaldi Thohir, pemilik PT Adaro Energy Tbk., juga bersama dengan Sandiaga Salahuddin Uno, menjadi komisaris di Merdeka Copper. Pria yang akrab disapa Boy Thohir itu tercatat sebagai orang terkaya ke-37 di Indonesia versi majalah Forbes dengan kekayaan ditaksir mencapai US$855 juta.

Jenderal TNI (Purn) Abdullah Makhmud Hendropriyono juga didaulat sebagai komisaris Merdeka Copper. Mantan Kepala Badan Intelejen Negara (BIN) yang juga tim sukses Jokowi-JK pada Pemilu Presiden itu juga menjabat sebagai chief executive PT Adiperkasa Citra Lestrari.

Komisaris Merdeka Copper berikutnya adalah Zannuba Ariffah Chafsoh Rahman Wahid atau akrab disapa Yenny Wahid. Putri kedua Presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur itu adalah anggota PKB dan menjabat sebagai direktur Wahid Institute.

Terakhir, Komisaris Independen Richard Bruce Ness. Pria berkewarganegaraan Amerika Serikat itu pernah menjabat sebagai eksekutif senior di Newmont Indonesia dan Freeport Indonesia. Kini, Richard menjabat sebagai Presiden Direktur PT Petrosea Tbk. dan PT Indika Energy Tbk.[5]

 

Firman Kelana (Aktivis GEMA Pembebasan Wilayah Jakarta Raya)
 
Catatan Kaki 



Komentar: 0

P E R H A T I A N : Komentar yang mengandung spam atau promosi produk akan dihapus!
Isi Komentar :

Nama :
Website : Tanpa http://
Email :
Komentar
(Masukkan 6 kode diatas)

 

Login User
Username :
Password :

Komentar Terakhir
Fb Fans Page


Kontak YM
  • iman_1924

  • Fahmi

  • Falsa M

  • Dimas G Randa

Chat Box


Nama :
Pesan


Jajak Pendapat
Apa yang seharusnya dilakukan oleh Pemuda dalam Perubahan Menuju Indonesia yang lebih baik?

Menjadi Pemuda yang memperjuangkan aspirasi Gema Pembebasan.
Memperjuangkan penerapan Syariah Islam secara Kaffah dengan tegaknya Khilafah.
Membenahi sistem pemerintahan yang sudah ada, kemudian melanjutkannya kembali.
Abstain.

Lihat Hasil Poling



Statistik Kunjungan
02179223


Pengunjung hari ini : 360

Total pengunjung : 431566

Hits hari ini : 1990

Total Hits : 2179223

Pengunjung Online: 1