GEMA PEMBEBASAN: Bersatu, bergerak, tegakkan ideologi islam!
Selamat Datang dan salam pembebasan dari kami! Follow us:

REVISI UU TERORISME, KETAKUTAN PEJUANG DEMOKRASI AKAN KEBANGKITAN ISLAM

Senin, 14 Maret 2016 - 22:42:05 WIB
Share:
Oleh: GEMA Pembebasan Wilayah Jakarta Raya | Dibaca: 2023x

Lima belas tahun lalu, tepatnya 20 September 2001, George Bush  di depan Kongres AS menyampaikan ultimatum kepada dunia yang berbunyi, “Every region now has a decision to make: Either you are with us, or you are with the terrorist”. Pesan politik ini membelah dunia menjadi dua kutub: mendukung Amerika atau teroris. Alhasil, hampir seluruh Negara termasuk Indonesia kompak mendukung langkah-langkah politik dan militer AS dalam memerangi terorisme.

Terorisme pada hakikatnya memiliki asosiasi makna dengan ancaman, pemberantasan, kasus, tindakan, jaringan, pencegahan, menumpas, menghadapi, produktif, Negara Islam, Khilafah, serangan, milisi, bahaya, menentang, narapida. Kata-kata ini merupakan ekspresi kebahasaan yang berkaitan dengan hukum dan kriminal.Citra ini menjadikan terorisme sebagai aktivitas yang melanggar hukum dan merupakan bagian dari kriminalitas.Namun, ada citra tambahan yang sengaja dipersepsikan ke publik yakni terorisme sebagai paham radikal dan ekstrim. Kata-kata radikal dan ekstrim ini hanya merujuk kepada Islam dan simbol Islam  seperti jihad, jenggot, dan bahkan Al Quran. Kita masih ingat kasus terorisme di Ciputat, Tangerang Selatan dimana Kompolnas menembak mati terduga teroris dan menjadikan Al Quran dan buku-buku tentang jihad sebagai alat bukti.

Di lain sisi, beberapa kasus yang tidak melibatkan simbol-simbol Islam tidak akan dicap teroris walaupun aktivitasnya telah memenuhi syarat Tindak Pidana Terorisme seperti yang diatur dalam Bab III (Tindak Pidana Terorisme) pasal 6 dan 7.Lihatlah aktivitas OPM di Papua yang meneror masyarakat dan bahkan telah membunuh banyak anggota polisi.Lihatlah kasus Leo (agama katolik), pengebom Mal Alam Sutera Jakarta dianggap oleh Kapolri sebagai kriminal murni bukan TERORISME.Lihatlah ketakutan yang diciptakan oleh Pemuda Pancasila (PP) dan Ikatan Pemuda Karya (IPK) di Medan. Lantas apakah dua organisasi kepemudaan ini dianggap TERORIS ?

Tak pelak, isu terorisme menjadi strategi ampuh bagi musuh-musuh Islam dan para pejuang Kapitalisme-Demokrasi untuk menghambat tegaknya syariah dan khilafah di bumi Nusantara. Bagi musuh-musuh Islam dan pejuang demokrasi, tegaknya Khilafah ala manhaj kenabian (bukan Khilafah buatan ala ISIS) memberi ketakutan yang luar biasa akan hilangnya eksistensi politik mereka di Indonesia. Luhut Pandjaitan, Menteri Koordinator bidang Politik, Hukum, dan Keamanan,bahkan terang-terangan mengatakan “Kami desain UU ini agar negeri ini aman. Luhut   melanjutkan bahwa selama ini orang atau sekelompok orang yang tidak mengakui negara Republik Indonesia dan menyatakan ingin mendirikan negara sendiri seperti halnya ISIS, bisa bebas menyatakan pengakuannya karena memang tidak ada undang-undang yang mengaturnya..Inilah salah satu pasal penting yang ditambahi dalam draf revisi UU Terorisme tentang penindakan terhadap seseorang yang melakukan penistaan pada negara dengan tidak mengakui Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Ketakutan berlebihan juga ditunjukkan Kapolri Jenderal Polisi Badrodin Haiti. Beliau kemudian mengusulkan ceramah provokatif masuk draft revisi uu terorisme karena dianggap mengancam NKRI. Namun di lain sisi, eksploitasi alam oleh Negara Asing dan Negara Aseng tidak dianggap sebagai ancaman Negara. Bahkan Kementerian Komunikasi dan Informatika tidak segan-segan memblokir situs yang dianggap radikal dalam persepsi mereka.Tercatat dari 24 situs yang diblokir, kesemuanya beristilahkan Islam.Tidak ada situs Organisasi Papua Merdeka atau LGBT yang diblokir.Bahkan situs-situs porno yang jelas-jelas merusak generasi bangsa tetap dibiarkan.

Inilah perang pemikiran yang sengaja dilancarkan musuh-musuh Islam dan pejuang demokrasi untuk terus menjaga eksistensi kebebasan mereka.Pejuang Islam yang gigih melakukan perlawanan atas segala penindasan dan ketidakadilan diasosiasikan teroris.Padahal tidak ada pilihan lain bagi manusia kecuali mengikuti dan menjadikan al-Quran sebagai pedoman dalam kehidupan. Meskipun demikian, tidak semua manusia berfikir ideologis dan bersikap revolusioner.Di antara mereka ada yang meragukan, bahkan mendustakan al-Quran.Mereka bahkan melakukan berbagai upaya jahat untuk memadamkan cahaya Islam dan melenyapkan orang-orang yang mengimani al-Quran.Namun demikian, upaya mereka dipastikan gagal dan sia-sia.Realitas inilah yang diberitakan oleh Allah SWT “Sesungguhnya orang kafir itu merencanakan tipudaya yang jahat dengan sebenar-benarnya.Aku pun membuat rencana dengan sebenar-benarnya. Karena itu beri tangguhlah orang-orang kafir itu, yaitu beri tangguhlah mereka itu barang sebentar (QS ath-Thariq [86]: 15-17)”

Abdul Wahid Kaimuddin (Kadiv Kajian Strategis (KASTRA) GEMA Pembebasan Jakarta Raya)



Komentar: 0

P E R H A T I A N : Komentar yang mengandung spam atau promosi produk akan dihapus!
Isi Komentar :

Nama :
Website : Tanpa http://
Email :
Komentar
(Masukkan 6 kode diatas)

 

Login User
Username :
Password :

Komentar Terakhir
Fb Fans Page


Kontak YM
  • iman_1924

  • Fahmi

  • Falsa M

  • Dimas G Randa

Chat Box


Nama :
Pesan


Jajak Pendapat
Apa yang seharusnya dilakukan oleh Pemuda dalam Perubahan Menuju Indonesia yang lebih baik?

Menjadi Pemuda yang memperjuangkan aspirasi Gema Pembebasan.
Memperjuangkan penerapan Syariah Islam secara Kaffah dengan tegaknya Khilafah.
Membenahi sistem pemerintahan yang sudah ada, kemudian melanjutkannya kembali.
Abstain.

Lihat Hasil Poling



Statistik Kunjungan
02023638


Pengunjung hari ini : 44

Total pengunjung : 385344

Hits hari ini : 141

Total Hits : 2023638

Pengunjung Online: 7