GEMA PEMBEBASAN: Bersatu, bergerak, tegakkan ideologi islam!
Selamat Datang dan salam pembebasan dari kami! Follow us:

Fanatisme Fasis Di Dunia Kampus

Sabtu, 11 Februari 2017 - 20:04:08 WIB

Sebagai contoh adalah adanya pelarangan pembukaan perpustakaan jalanan yang terjadi di beberapa kampus. Dalihnya adalah kekhawatiran akan adanya kebangkitan paham-paham kiri yang berasal dari buku-buku tersebut.

Yah, meskipun mereka juga berdalih bahwa pembukaan perpustakaan jalanan tersebut menyalahi aturan karena tidak berizin dan sebagainya. Namun, tetap saja (menurut saya) ada kedok tersembunyi yang dibawa oleh pihak kampus atas pelarangan tersebut. Padahal, bisa saja perpustakaan jalanan tersebut menyediakan sumber-sumber referensi yang memang sulit didapatkan di perpustakaan kampus. Dan referensi itu tidaklah mesti hal-hal yang berbau ‘kiri', namun juga membawa tema-tema lain yang dibutuhkan oleh mahasiswa. Saya pribadi yang beberapa kali mengunjungi perpustakaan jalanan, melihat bahwa buku-buku yang dipamerkan rata-rata adalah novel dan karangan-karangan fiksi. 

Contoh lainnya adalah pelarangan – bahkan pembubaran – diskusi-diskusi yang dilaksanakan oleh beberapa organisasi pergerakan. Saat ini, keberadaan organisasi-organisasi pergerakan  di dunia kampus dianggap sebagai sesuatu yang ‘mengganggu’ di ranah akademik kampus. Bak kerikil dalam sepatu, organisasi-organisasi pergerakan tersebut dipandang sebagai ‘kerikil’ menyesakkan dan harus disingkirkan. Semuanya demi kenyamanan sang ‘sepatu’ yang bernama ‘kampus’. Makanya wajar apabila kampus membatasi ruang bagi organisasi-organisasi pergerakan tersebut untuk melakukan kegiatan, salah satunya adalah diskusi. Apalagi jika diskusi-diskusi yang di selenggarakan merupakan diskusi ideologis. Yang bertujuan mengubah kondisi negeri ini menjadi lebih baik secara sistemik. Tentunya dengan perspektif Islam yang berasal dari Allah dan Rasul-Nya.

Tak ada asap, kalau tak ada api. Demikian juga dengan ‘tirani fasisme’ yang meracuni dunia kampus. Semuanya tak mungkin terjadi kalau tidak ada hal yang menyebabkannya.

Salah satu penyebab munculnya ‘tirani fasisme’ ini adalah saat lahirnya komersialisasi dunia kampus. Ya, komersialisasi dunia kampuslah yang membawa kampus kehilangan rohnya sebagai institusi akademik. Kampus yang seharusnya menjadi institusi akademik dan bertujuan untuk melahirkan insan-insan yang memiliki kesadaran kritis terhadap lingkungan sosialnya, kini berubah menjadi ‘dunia industri’ yang mencetak manusia-manusia pekerja yang sama sekali acuh terhadap kondisi lingkungan sosialnya.

Saat ini, kampus bertujuan menghasilkan manusia-manusia yang siap ditempatkan di dunia kerja, tanpa mempedulikan idealisme mahasiswa tersebut. Semua ini dilakukan untuk mengejar peringkat akreditasi kampus, semakin tinggi dan baik akreditasi kampus tersebut, maka semakin tinggilah ‘nilai jual’ kampus tersebut, yang akan berujung pada membludaknya pendaftaran mahasiswa baru. Bukankah keuntungan finansial ini yang diinginkan oleh setiap kampus?  Sungguh pragmatis.

Untuk mengejar keuntungan tersebut, kampus pun mulai melakukan beberapa hal. Diawali dengan keharusan mahasiswa untuk lulus dengan cepat, tak perlu berlama-lama di kampus, apalagi berlama-lama itu disebabkan oleh keikutsertaan seorang mahasiswa di organisasi pergerakan. Semakin lama seorang mahasiswa berada di kampus, maka semakin besarlah peluang mahasiswa tersebut untuk ditendang keluar kampus.

Kebijakan lainnya adalah banyaknya tugas kuliah yang diberikan, sehingga mahasiswa pun kehilangan waktunya untuk berorganisasi – terlebih organisasi pergerakan -, padahal dalam berorganisasi itulah mahasiswa dapat mengaktualisasikan ilmu yang dimilikinya. Di saat berorganisasi itulah mahasiswa juga dapat menumbuhkan daya kritisnya.  Sebab, ilmu akan menjadi pasif jika hanya dipelajari di bangku kuliah semata. Memang, pemberian tugas kuliah merupakan hal yang wajar, sebab disitulah seorang dosen dapat menilai dan mengukur kompetensi seorang mahasiswa. Namun, jika pemberian tugas tersebut sudah over capacity, tentunya hal tersebut sudah melebihi batas normal.

Di sinilah, kampus sebenarnya telah melakukan pelanggaran akademis itu sendiri. Sebab, yang ditanamkan hanyalah hasil berupa nilai dan kelulusan mahasiswa semata. Karena lama atau tidaknya seorang mahasiswa menimba ilmu di kampus, itulah proses mahasiswa tersebut dalam menempuh perkuliahan. Di saat bersamaan, kampus juga telah menunjukkan rasa fanatisme berlebihan dengan kebijakan-kebijakan fasis yang justru hanya akan ‘membunuh’ mahasiswa.

Penutup
Disinilah letak suramnya dunia pendidikan saat ini. Memang, kebijakan-kebijakan bersifat fasis tersebut tidak sampai menimbulkan korban jiwa dan luka-luka. Namun, kebijakan fasisme fanatis tersebut justru akan lebih ‘membunuh’ mahasiswa dari segi pemikiran, terlebih idealisme dan daya kritis mahasiswa tersebut. Dinamika berpikir mahasiswa pun mulai pudar sehingga mahasiswa secara perlahan akan kehilangan daya kritisnya meski memang mahasiswa kritis saat ini belumlah punah. Namun, jumlah mereka sangatlah sedikit jika dibandingkan dengan mahasiswa yang berpikir pragmatis.

Maka tidak mengherankan jika dari hari ke hari, mahasiswa Indonesia hanya bisa berpikir pragmatis. Hanya memikirkan keuntungan individu tanpa memikirkan kondisi sosial di sekitarnya. 

Jika terus begini, maka ‘kematian’ berpikir mahasiswa hanya tinggal tunggu waktu. Hal ini tentunya akan berdampak serius bagi perjalanan negara ini ke depannya. Di masa depan, akan lahir pemimpin yang bersikap acuh terhadap rakyatnya, disebabkan hilangnya kepedulian terhadap kondisi sosial masyarakat. Siapakah yang memproduksi pemimpin seperti itu? Apakah kampus yang dahulu ‘mendidiknya’ mau bertanggung jawab? Tentunya tidak, bukan??!!

Bambang W. Akbar
Aktivis GEMA PEMBEBASAN D. I YOGYAKARTA

' />
Share:
Oleh: GEMA Pembebasan Wilayah Yogyakarta | Dibaca: 948x
Fasisme. Ya, itulah sebuah kata yang mengundang banyak rasa trauma bagi banyak orang.“Kiprah" ideologi ini sepanjang perang dunia, khususnya Perang Dunia II (1942-1945), cukup membuat rasa trauma kita sebagai manusia sangatlah beralasan. Betapa tidak, ideologi ini bertanggung jawab terhadap ratusan bahkan ribuan kematian yang terjadi pada masa-masa tersebut. Mengapa ideologi ini begitu menakutkan? Mengapa pula kebangkitan ideologi ini begitu mengkhawatirkan banyak pihak? Sebelum membahas hal tersebut, ada baiknya bila kita menelusuri pengertian Fasisme itu sendiri.

Pengertian Fasisme
Fasisme adalah sebuah gerakan radikal ideologi nasionalis yang bersifat otoriter secara politik. Paham ini berusaha untuk mengatur bangsa menurut perspektif korporatis, nilai, dan sistem, termasuk sistem politik dan ekonomi. Tujuan fasisme secara umum, yaitu membuat individu dan masyarakat berpikir dan bertindak seragam. Para fasis menggunakan kekuatan dan kekerasan, menggunakan semua metode propaganda dan (bahkan) genosida untuk mencapai tujuannya (www.yuksinau.com).

Artinya, dalam ideologi ini, segala hal yang berasal dari luar  dianggap sebagai hal yang bertentangan dan harus dimusnahkan, bagaimanapun caranya. Agar hal tersebut tidak muncul lagi. Ideologi ini juga bertumpu pada empat sifat yang mendasarinya, yakni Rasisme (Diskriminasi terhadap suku, agama, dan ras tertentu), Militerisme (Perkembangan dan pemeliharaan militer adalah tujuan terpenting), Ultra Nasionalis (Membanggakan negara sendiri secara berlebihan dan merendahkan negara lain), dan (tentu saja) Imperialisme (Menguasai dunia dengan paksaan)

Fasisme Di Dunia Kampus
Kita semua tentu tahu dampak jika fasisme dijalankan oleh negara, sejarah telah menjadi saksi atas kebiadaban ideologi tersebut. Namun, bagaimanakah jika dunia kampus juga (ikut) menjalankannya? Nah ironisnya, sifat-sifat berbau fasis juga tak jarang ditemui di ranah kampus yang bersifat akademik. Di dunia akademik ini, ternyata masih ada beberapa kampus yang enggan membuka keran bagi kebebasan ekspresi mahasiswa. Termasuk jika hal-hal yang di ekspresikan dan di bawa itu berada di luar koridor mainstream kampus tersebut. Fasisme seakan menjadi sebuah ‘fanatisme mengasyikkan' yang harus terus ditanamkan di ranah kampus yang akademik ini.

Sebagai contoh adalah adanya pelarangan pembukaan perpustakaan jalanan yang terjadi di beberapa kampus. Dalihnya adalah kekhawatiran akan adanya kebangkitan paham-paham kiri yang berasal dari buku-buku tersebut.

Yah, meskipun mereka juga berdalih bahwa pembukaan perpustakaan jalanan tersebut menyalahi aturan karena tidak berizin dan sebagainya. Namun, tetap saja (menurut saya) ada kedok tersembunyi yang dibawa oleh pihak kampus atas pelarangan tersebut. Padahal, bisa saja perpustakaan jalanan tersebut menyediakan sumber-sumber referensi yang memang sulit didapatkan di perpustakaan kampus. Dan referensi itu tidaklah mesti hal-hal yang berbau ‘kiri', namun juga membawa tema-tema lain yang dibutuhkan oleh mahasiswa. Saya pribadi yang beberapa kali mengunjungi perpustakaan jalanan, melihat bahwa buku-buku yang dipamerkan rata-rata adalah novel dan karangan-karangan fiksi. 

Contoh lainnya adalah pelarangan – bahkan pembubaran – diskusi-diskusi yang dilaksanakan oleh beberapa organisasi pergerakan. Saat ini, keberadaan organisasi-organisasi pergerakan  di dunia kampus dianggap sebagai sesuatu yang ‘mengganggu’ di ranah akademik kampus. Bak kerikil dalam sepatu, organisasi-organisasi pergerakan tersebut dipandang sebagai ‘kerikil’ menyesakkan dan harus disingkirkan. Semuanya demi kenyamanan sang ‘sepatu’ yang bernama ‘kampus’. Makanya wajar apabila kampus membatasi ruang bagi organisasi-organisasi pergerakan tersebut untuk melakukan kegiatan, salah satunya adalah diskusi. Apalagi jika diskusi-diskusi yang di selenggarakan merupakan diskusi ideologis. Yang bertujuan mengubah kondisi negeri ini menjadi lebih baik secara sistemik. Tentunya dengan perspektif Islam yang berasal dari Allah dan Rasul-Nya.

Tak ada asap, kalau tak ada api. Demikian juga dengan ‘tirani fasisme’ yang meracuni dunia kampus. Semuanya tak mungkin terjadi kalau tidak ada hal yang menyebabkannya.

Salah satu penyebab munculnya ‘tirani fasisme’ ini adalah saat lahirnya komersialisasi dunia kampus. Ya, komersialisasi dunia kampuslah yang membawa kampus kehilangan rohnya sebagai institusi akademik. Kampus yang seharusnya menjadi institusi akademik dan bertujuan untuk melahirkan insan-insan yang memiliki kesadaran kritis terhadap lingkungan sosialnya, kini berubah menjadi ‘dunia industri’ yang mencetak manusia-manusia pekerja yang sama sekali acuh terhadap kondisi lingkungan sosialnya.

Saat ini, kampus bertujuan menghasilkan manusia-manusia yang siap ditempatkan di dunia kerja, tanpa mempedulikan idealisme mahasiswa tersebut. Semua ini dilakukan untuk mengejar peringkat akreditasi kampus, semakin tinggi dan baik akreditasi kampus tersebut, maka semakin tinggilah ‘nilai jual’ kampus tersebut, yang akan berujung pada membludaknya pendaftaran mahasiswa baru. Bukankah keuntungan finansial ini yang diinginkan oleh setiap kampus?  Sungguh pragmatis.

Untuk mengejar keuntungan tersebut, kampus pun mulai melakukan beberapa hal. Diawali dengan keharusan mahasiswa untuk lulus dengan cepat, tak perlu berlama-lama di kampus, apalagi berlama-lama itu disebabkan oleh keikutsertaan seorang mahasiswa di organisasi pergerakan. Semakin lama seorang mahasiswa berada di kampus, maka semakin besarlah peluang mahasiswa tersebut untuk ditendang keluar kampus.

Kebijakan lainnya adalah banyaknya tugas kuliah yang diberikan, sehingga mahasiswa pun kehilangan waktunya untuk berorganisasi – terlebih organisasi pergerakan -, padahal dalam berorganisasi itulah mahasiswa dapat mengaktualisasikan ilmu yang dimilikinya. Di saat berorganisasi itulah mahasiswa juga dapat menumbuhkan daya kritisnya.  Sebab, ilmu akan menjadi pasif jika hanya dipelajari di bangku kuliah semata. Memang, pemberian tugas kuliah merupakan hal yang wajar, sebab disitulah seorang dosen dapat menilai dan mengukur kompetensi seorang mahasiswa. Namun, jika pemberian tugas tersebut sudah over capacity, tentunya hal tersebut sudah melebihi batas normal.

Di sinilah, kampus sebenarnya telah melakukan pelanggaran akademis itu sendiri. Sebab, yang ditanamkan hanyalah hasil berupa nilai dan kelulusan mahasiswa semata. Karena lama atau tidaknya seorang mahasiswa menimba ilmu di kampus, itulah proses mahasiswa tersebut dalam menempuh perkuliahan. Di saat bersamaan, kampus juga telah menunjukkan rasa fanatisme berlebihan dengan kebijakan-kebijakan fasis yang justru hanya akan ‘membunuh’ mahasiswa.

Penutup
Disinilah letak suramnya dunia pendidikan saat ini. Memang, kebijakan-kebijakan bersifat fasis tersebut tidak sampai menimbulkan korban jiwa dan luka-luka. Namun, kebijakan fasisme fanatis tersebut justru akan lebih ‘membunuh’ mahasiswa dari segi pemikiran, terlebih idealisme dan daya kritis mahasiswa tersebut. Dinamika berpikir mahasiswa pun mulai pudar sehingga mahasiswa secara perlahan akan kehilangan daya kritisnya meski memang mahasiswa kritis saat ini belumlah punah. Namun, jumlah mereka sangatlah sedikit jika dibandingkan dengan mahasiswa yang berpikir pragmatis.

Maka tidak mengherankan jika dari hari ke hari, mahasiswa Indonesia hanya bisa berpikir pragmatis. Hanya memikirkan keuntungan individu tanpa memikirkan kondisi sosial di sekitarnya. 

Jika terus begini, maka ‘kematian’ berpikir mahasiswa hanya tinggal tunggu waktu. Hal ini tentunya akan berdampak serius bagi perjalanan negara ini ke depannya. Di masa depan, akan lahir pemimpin yang bersikap acuh terhadap rakyatnya, disebabkan hilangnya kepedulian terhadap kondisi sosial masyarakat. Siapakah yang memproduksi pemimpin seperti itu? Apakah kampus yang dahulu ‘mendidiknya’ mau bertanggung jawab? Tentunya tidak, bukan??!!

Bambang W. Akbar
Aktivis GEMA PEMBEBASAN D. I YOGYAKARTA



Komentar: 0

P E R H A T I A N : Komentar yang mengandung spam atau promosi produk akan dihapus!
Isi Komentar :

Nama :
Website : Tanpa http://
Email :
Komentar
(Masukkan 6 kode diatas)

 

Login User
Username :
Password :

Komentar Terakhir
Fb Fans Page


Kontak YM
  • iman_1924

  • Fahmi

  • Falsa M

  • Dimas G Randa

Chat Box


Nama :
Pesan


Jajak Pendapat
Apa yang seharusnya dilakukan oleh Pemuda dalam Perubahan Menuju Indonesia yang lebih baik?

Menjadi Pemuda yang memperjuangkan aspirasi Gema Pembebasan.
Memperjuangkan penerapan Syariah Islam secara Kaffah dengan tegaknya Khilafah.
Membenahi sistem pemerintahan yang sudah ada, kemudian melanjutkannya kembali.
Abstain.

Lihat Hasil Poling



Statistik Kunjungan
02234696


Pengunjung hari ini : 42

Total pengunjung : 442095

Hits hari ini : 158

Total Hits : 2234696

Pengunjung Online: 6