GEMA PEMBEBASAN: Bersatu, bergerak, tegakkan ideologi islam!
Selamat Datang dan salam pembebasan dari kami! Follow us:

DARI ADAM SMITH, BOLSHEVIK, HINGGA REZIM HARI INI

Selasa, 13 Juni 2017 - 10:50:10 WIB
Share:
Oleh: GEMA Pembebasan Pusat | Dibaca: 700x
“Di atas kursi timah yang perkasa, serasa berabad-abad kalian terpaku lena, berleha-leha bagai berhala, dengan pongah tertawa-tawa, menghirupi dan menikmati keringat kami yang tersisa. Di bawah kursi timah yang perkasa, kami hanya bisa mengharap luapan airmata, kami akan menenggelamkannya bersama bangkai-bangkai tiran, yang berabad-abad teronggok di atasnya.”
-A. Mustofa Bisri-

Pertama-tama sebelum saya lanjutkan bicara, ada baiknya kita menundukkan kepala sebentar, mengheningkan cipta bersama atas matinya keadilan dan nurani yang mengenaskan di negeri ini oleh para penguasanya sendiri.
Menghening.
Selesai.
Semoga tidak ada lagi kematian-kematian lain yang menyusul, walaupun sebenarnya hal sebaliknya yang saya harapkan, sebab agar tak ada lagi sembunyi-sembunyi kuch kuch hotahei dalam pembantaian. Penjahat sekalian penjahat, jagal ya jagal, pembunuh gerakan dakwah Islam ini jangan sesekali berlindung di balik kuasa daulat tunggal.
Belakangan ini saya sedang melihat pola sejarah yang cukup membingungkan. Entah apa sebenarnya yang sedang terjadi. Sejarah macam apa yang sedang diupayakan oleh penguasa kita. Dibilang berkarakter kebebasan ternyata tidak, dibilang tidak, ya bebas. Lantas, apa sebenarnya jati diri negara ini?
Jika melihat segala kebijakan yang terterapkan, maka akan kita didapati bahwa sejatinya liberalisasi ala Adam Smith benar-benar tengah mengalir dalam setiap lini aorta perekonomian bernegara. Laissez Faire, satu mantra tentang kebebasan kepemilikan itu telah menyerang sendi-sendi Pancasila yang jadi dasar bernegara, terutama keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Tenyata yang terjadi malah keadilan sosial bagi seluruh pemodal yang durjana.
Banyak bukti kebijakan berupa Undang-undang yang berhaluan Liberal telah dijalankan, UU Penanaman Modal Asing, privastisasi sektor-sektor publik, penghapusan subsidi, dan lain sebagainya. Bahkan belum genap satu tahun ini saja, kita telah merasakan kenaikan Tarif Dasar Listrik (TDL) hampir sebesar250%, itu belum satu tahun, kawan! Ini satu bukti negara dan pemerintah sebenarnya adalah cucu ideologis mbah Smith, bukanlah seorang Pancasilais yang mereka klaim dan diamini bersama oleh para pengikutnya.
Dalam ranah kebijakan ekonomi dan sosial, nyata-nyata kita menemukan sistem pasar bebas sedang merongrong kesaktian dan harga mati dari volonte generale (Pancasila). Masyarakat Indonesia yang sejatinya memiliki kekayaan alam negeri ini, tereduksi perannya hanya menjadi sekadar skrup, unsur, dan elemen terkecil dari mesin besar sistem pasar kapitalisme.
Di tengah benang kusut persoalan kesenjangan ekonomi yang parah dan tak ada indikasi penyelesaian yang kongkret, kita justru dikagetkan dengan munculnya raksasa tirani baru dalam perpolitikan. Nafas-nafas kaum Bolshevikpuluhan tahun lalu yang kejam, yang sempat juga para ideolognya mengacaukan negeri ini, tetiba saja nyengir berhadap-hadapan dengan kekuatan politik kaum Muslimin yang coba membongkar keculasan pemerintah yang berkiblat ke Adam Smith ini. Bagi Bolshevik tidak ada kekuatan di luar mereka, “tidak masalah seluruh manusia ini musnah, asal yang tersisa itu adalah kaum komunis.”
Dan inilah yang sekarang tengah dirasakan oleh kekuatan politik kaum Muslimin dalam perjuangannya membongkar kelicikan rezim. Kelihatan Pancasila dan tafsirnya tengah dimonopoli oleh mereka. Nyaris serupa, bahwa,“tidak masalah mayoritas manusia Indonesia ini terpenjara dalam keserakahan kaum kapitalis yang picik, tak masalah mayoritas itu dikekang, dibubarkan, bahkan dimusnahkan geraknya, asal rezim dan antek lainnya masih bebas menindas hak-hak rakyat dengan berlindung di balik Pancasila yang diperkosa.”
Inilah rumitnya pergerakan kita, kawan. Kapitalis dan “Bolshevik” Komunis telah bersatu untuk menindas keyakinan dan perjuangan kita membebaskan manusia dari perbudakan sesama manusia menuju penghambaan hanya kepada pencipta Manusia.
Rezim hari ini sungguh sangat cerdas dalam menindas. Ekonomi liberal Adam Smith yang dikendalikan modal mereka jaga ketat dengan kekuatan politik diktator-totaliternya ala Bolshevik. Satu sintesa mengerikan untuk memusnahkan keadilan. Kawan, ini sungguh nyata bagi hati yang tak buta. Bergeraklah kita, sadarlah kawan sadar, sebelum kebiadaban rezim semakin massal.

Oleh : Vier Agi Leventa
Aktivis Gerakan Mahasiswa Pembebasan Yogyakarta


Komentar: 0

P E R H A T I A N : Komentar yang mengandung spam atau promosi produk akan dihapus!
Isi Komentar :

Nama :
Website : Tanpa http://
Email :
Komentar
(Masukkan 6 kode diatas)

 

Login User
Username :
Password :

Komentar Terakhir
Fb Fans Page


Kontak YM
  • iman_1924

  • Fahmi

  • Falsa M

  • Dimas G Randa

Chat Box


Nama :
Pesan


Jajak Pendapat
Apa yang seharusnya dilakukan oleh Pemuda dalam Perubahan Menuju Indonesia yang lebih baik?

Menjadi Pemuda yang memperjuangkan aspirasi Gema Pembebasan.
Memperjuangkan penerapan Syariah Islam secara Kaffah dengan tegaknya Khilafah.
Membenahi sistem pemerintahan yang sudah ada, kemudian melanjutkannya kembali.
Abstain.

Lihat Hasil Poling



Statistik Kunjungan
02234697


Pengunjung hari ini : 42

Total pengunjung : 442095

Hits hari ini : 159

Total Hits : 2234697

Pengunjung Online: 6